Bukan Tirai Usia
Bukan Tirai Usia
Oleh: Septiya Ajeng Tri Rahayu
Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya
SeptiyaEunhyuk@blogspot.co.id
Hari yang melelahkan setelah banyak rutinitas, apa kabar dengan tubuh yang lemah ini? Nampaknya badanku terasa letih karna terlalu banyak pekerjaan kantor yang menumpuk. Aku menghela nafas dan berfikir apakah perempuan tua sepertiku akan bahagia dengan pekerjaan saja, aku bahkan menginginkan seseorang mengenakan cincin ke jari manisku.
Lamunanku pecah aku mulai berkonsentrasi akan jari-jari tanganku untuk mengetik laporan yang harus diserahkan besok. Ya namaku Arendelle gadis tua berusia 34 tahun, aku masih lajang semenjak hubungan percintaanku yang gagal 2 tahun silam, merasa trauma dan berfikir untuk hidup sendiri saja. Menaiki mobil menyetir sendiri lebih menyenangkan ketimbang ada yang mengantar jemput kemana-mana, layaknya supir aku sendiri bisa menjadi supir. Aku juga bisa mengangkat tas koperku sendiri meskipun berat aku merasa kuat dan tidak memerlukan seseorang untuk membawakanya.
Dirumah aku juga bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik memasak, mencuci, mengepel, membersihkan kamar mandi dan lain sebagainya. Mungkin ini karna aku terbiasa jadi aku tidak merasa kesepian, kedua orang tuaku tinggal di Jakarta dan sekarang aku juga berada di kota yang sama namun aku telah tinggal di Apartemenku sendiri. Jika boleh memilih pekerjaanku di kantor adalah hal yang utama, aku sudah tidak pernah memikirkan hal-hal yang tidak penting kencan ataupun menikah. Aku memiliki teman namun, temanku sudah berkeluaraga dan banyak juga yang sudah memiliki anak. Sesekali aku berkunjung dan bermain dengan anak-anak mereka.
Setelah memberikan laporan kepada atasanku aku diizinkan untuk berlibur 7 hari ya mungkin ini salah satu bonus karna selama ini telah bekerja keras, ia juga memberiku tiket liburan ke Jeju, ya pulau Jeju, Korea Selatan. Aku berfikir kenapa jauh sekali, dan berniat untuk menolak tiket itu tapi kalau aku rasa ide itu tidak buruk hingga, aku memutuskan untuk pergi.
“Nyonya kau menjatuhkan dompetmu,” ujar pria tak dikenal.
“Lain kali hati-hati nyonya”.
“ya, ya, ya baiklah,” jawabku.
Aku sudah tiba di Bandara dan menabrak seorang pria berambut lurus pendek bewarna coklat, ia bisa bahasa Indonesia, nampaknya ia orang Indonesia juga. Setelah sampai di Bandara Incheon Airport pukul 19.00 Korsel aku bergegas ke Hotel menaiki sebuah taxi, namun sebelum masuk ada pria gila yang tiba-tiba nyelonong masuk taxi yang sudah lebih dahulu aku hentikan.
“Hei kau, aku duluan yang menghetikan taksi ini, kau keluar!!!! usirku
“Maaf nyonya aku duluan, kau saja yang turun
“Apa katamu dasar, anak sial, berani-beraninya kau membantah orang yang lebih tua, kau turun
“ Iya iya nyonya tua, kau benar-benar tua dan jelek, hahahaha
“Anak kecil itu benar-benar gila, seenaknya dia ngatain orang yang baru ia kenal seperti itu apa dia gak pernah diajarin orangtuanya apa? batinku.
Sesampainya di hotel aku langsung menuju kamar yang sudah disediakan, aku berencana langsung istirahat saja agar besok bisa bersenang-senang. Namun tiba-tiba ponselku berbunyi, dan aku langsung mengangkatnya. Ternyata Serli teman kantorku yang juga berlibur di Jeju saat ini dan hendak mengajaku party malam ini juga di Kolam renang tempat hotel aku menginap. Tanpa berfikir panjang aku tak sengaja mengiyakan permintaan Serli, sebenarnya aku menyesal mau pergi kesana tapi mau gimana lagi.
Di samping kolam renang aku mencari teman kantorku Serli. Dia ternyata sedang duduk di bawah pohon bersama teman-teman yang lain. Serli melambaikan tanganya dan kubalas dengan melambaikan tanganku, aku langsung menghampirinya.
“Hai Arendelle kau sendirian saja mari aku kenalkan kepada teman-temanku, yang ini Dion, Fani, Tiger, Kyuhyun dan cowok yang ganteng itu Nickhun. Sambil menunjung pria yang memegang segelas minuman yang menghadap ke kolam
“Halo namaku Arendelle, salam kenal senang bertemu kalian
“Ya Arendelle usiamu berapa nampaknya kau sudah menikah, anakmu berapa? Tanya pria yang bernama Tiger, wajahmu seperti Ahjuma-Ahjuma dalam bahasa Korea (tante-tante)
“Kau gila beraninya berkata begitu terhadap temanku, dia belum menikah dan segera akan menikah,” bela Serli.
Aku mempoutkan bibirku sembari melototin Tiger benar-benar menjengkelken ucapan kata-kata pria itu, ingin rasanya aku menendang pantatnya dan meninju wajahnya hingga babak belur, namun aku mengendalikan diriku karena banyak orang aku tidak mau tambah malu. Hingga akhirnya aku diam saja. Aku melihat langit dan memandangi lampu gemerlap di party ini sambil makan hidangan pancake yang terhidang rapi dimeja. Tiba-tiba seorang pria yang nampak pernah aku lihat datang dari arah kolam sambil berbincang dengan Serli.
“Nickhun kau bisa meminjamkan mobilmu kepada Kyuhyun, ia hendak mengantarkan Fany ke rumah sakit, karna perutnya katanya sakit, ucap Serli
“Ya, tentu saja. Sambil mengeluarkan kunci di saku celananya”
“Kau ??? kau... kau ...kan pria gila ??? yang di taxi... bandara...??? tanyaku sambil menunjuk hidung pria gila itu”
“ oh iya kau kan gadis jutek yang tadi, sambil menghela nafas”
“Dunia ini benar-benar sempit ya, kenapa aku harus bertemu denganya lagi lirihnya....”
“Apa Kau bilang???? Tanyaku”
“Ah sudah lupakan” sahut Nikhun
“Oh jadi kalian sudah kenal. Tanya Serli bagus kalu begitu. Sambungnya.”
Aku melanjutkan aktivitasku sendiri sembari melihat pemandangan yang ada di sekitar tempat party. Aku benar-benar heran dengan mereka yang kebanyakan membawa pasangan apa mereka sudah menikah? Aku bertanya-tanya dalam hati. Sesekali dengan tidak sengaja aku mendapati Nickhun yang sendirian sambil minum segelas Bir di sebelah kolam dengan tatapan kosong, nampak ia sedang memikirkan sesuatu. Kuberanikan diri bertanya pada Serli yang duduk di sebelahku, sebetulnya aku hanya iseng-iseng sih.
Aku bertanya sebenarnya berapa umur Nickhun kepada Serli, namun Serli menjelaskan panjang lebar karna ia terkenal cerewet dan bawel. Ternyata umur pria itu masih muda sekitar 24 tahun ia masih dibangku kuliah dan anak orang kaya, bagi orang yang belum mengenalnya ia adalah anak aneh suka berbuat onar dan memancing keributan. Namun, akhir-akhir ini ia terlihat aneh dan pendiam, entah apa yang sedang ia pikirkan.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk pergi bersama Serli dan kawan-kawan. Naik gunung yang tepat berada di selatan pulau Jeju. cuaca yang cerah juga membuat aku bersemangat, apalagi di pegunungan ini terkenal akan keindahanya sembari melihat lautan kita juga bisa memandangi pepohonan yang indah. Tiger dengan membawa lembaran peta menyebarkan kepada masing-masing kelompok, kelompok ini terdiri dari 3 anggota yang diundi secara acak. Betapa sialnya aku setelah mengetahi bahwa aku berada di kelompok Tiger dan Nickhun kedua orang yang sama-sama mengataiku tua. Benar- benar kesal dan kecewa setelah mengetahui aku menjadi anggota kelompok mereka.
“ Yah benar-benar sial kita berkelompok dengan Ajumha ini, ucap Tiger
“Apa katamu brengsek, balasku sambil mempoudkan bibirku
“Baik kita mulai saja, kita harus menemukan 5 cap, di peta ini cap pertama terletak di sebelah batu berwarna orange dan kita harus melewati sungai ini. Sambil menunjuk peta, ujar nickhun
Kami mulai perjalanan kami, hingga menemukan 5 cap itu, cap pertama sudah kami temukan, tinggal 4 cap lagi. Diperjalanan kami sangat kompak dan tidak ada pertengkaran berbeda sewaktu biasanya kita berbincang. Selang perjalanan aku kehilangan gelangku dan itu adalah gelang yang sangat istimewa karena diberi oleh mantanku terindah, meskipun aku sudah melupakanya namun itu adalah benda yang paling berkenang yang aku punya. Akupun berputar arah dan mencarinya. Nickhun menoleh kebelakang dan meneriakiku aku tidak mempedulikanya ia mengikutiku dari belakang dan menarik tanganku dari belakang.
“Kau mau kemana sih? misi kita belum selesai. Kamu mau pergi seenaknya setelah menemukan capnya kamu tinggal duduk enak begitu? tanya Nickhun.
“ Tidak, aku mencari gelangku yang hilang, Lepaskan! pintaku
“Hey kau tidak takut nyasar, disini hewanya buas-buas, ayo!! Ajak Nickhun”
“ Tidak mau, aku mau mencarinya. Sambil menitihkan air mata
“Ah benar-benar sial oke aku akan membantumu mencari. Berhenti menangis , arraseo????? Kau sudah tua, kau tak malu. Sambil mengelap air mataku.
“ kyaaa apa yang kau lakukan jangan pegang-pegang sahutku”
Ia membantuku mencari gelangku yang sampai sekarang tak kunjung ketemu, sedangkan Tiger sudah kembali ke perkemahan dari tadi. Nickhun benar-benar mencari gelangku dengan telaten apalagi setelah aku menceritakan akan kenangan gelang itu. Gelang itu benar-benar penting, setelah sekian lama aku berpacaran 8 tahun dan akhirnya kita putus meskipun demikian itu tetap saja berharga bagiku. Nickhun memandangiku akupun balas memandangnya, dan merasa bingung.
“Arendelle... ucap Nickhun
“Kenapa?? tanyaku
“Tidak hanya begitu saja, sambil tersenyum
“Kenapa sih? tanya ku lagi
“Yeopo”
“Hah???? Aku benar-benar tak mendengar suaranya yang lirih dan tiba-tiba ia tertidur dibahuku, aku memukulnya namun ia benar-benar tertidur dengan pulas. Mungkin dia kecapaian fikirku. Tiba-tiba ia bangun.
“Kyaaa kau hanya pura-pura? tanyaku. Ia mengeleng
“Aku ingin menikahimu
“What...??? kau gila imbuhku. Buuukkk ,,,,sambil memukul kepalanya.
“Serius, aku menyukaimu semenjak kita pertama bertemu, aku memikirkan ini dan hatiku bergetar saat kau disampingku” sambil memegang tangan Arendelle
“Issshhhhhh dasar gila kau anak kecil, kau tau berapa usiaku? keponakanku saja lebih tua darimu, ishhh jangan becanda” aku memukul kepalanya lagi.
Aku benar-benar kaget dengan yang dikatakan oleh Nickhun beberapa hari yang lalu, ia nampak tak sedang becanda kala itu. Namun, aku hanya diam terhadapnya dan selalu menghindar, apabila ia mendekat terhadapku. Saat ini adalah hari terakhir kita di Jeju, aku melihat kearahnya wajahnya begitu muram kemudian ia melihatku dan akupun mengalihkan wajahku agar tak terlihat olehnya. Kami berpisah satu sama lain ketika di Bandara Soe-Hatta, aku langsung pulang ke Apartemenku setelah itu. Aku merasa tidak enak sekali dengan liburan kali ini, entah perasaan apa ini namun, aku merasa bersalah terhadap Nickhun.
Seminggu setelah liburan pun berlalu aku pun sudah mulai kerja tiba-tiba Serli bercerita tentang Nichkun yang sedang sakit di rumah sakit, dan berniat mengajaku menjenguknya dengan teman-teman yang lain. Tanpa berfikir aku mengiyakan ajakan itu karna aku juga sedikit khawatir akan keadaan Nickhun saat ini. Setibanya di Rumah Sakit aku langsung menemui Nickhun yang terbaring selepas selesai oprasi usus buntu, melegakan sekali setelah mendengar oprasinya lancar.
Ia pun menatap wajahku terus menerus hingga aku bingung untuk mengabaikanya lagi seperti apa. Aku hendak pergi meninggalkan ruang rawatnya dan ia berteriak
“Kyaaa Ajumhaa kau mau pergi menghindar lagi ya? Aku mencintaimu, maukah kau menjadi Istriku? teriaknya..
Akupun menghentikan langkahku setelah mendengar teriakanya, aku membalikan badanku, dan mendengarkanya bebicara”
“Aku tau, kau masih menyukai mantanmu yang sialan itu, dan usiaku bukan tipemu kan? Tapi kalau kau memilihku aku akan membahagiakanmu dan gak akan pernah meninggalanmu sedetik pun.”
“Bukan hanya itu ishhh kau tidak akan pernah mengerti, kita berbeda usia sangat jauh kau pikir orangtuamu akan setuju dengan itu ha? jawabku
Aku bingung saat itu, aku juga menyukainya, tapi perbedaan ini yang membuat aku lemah dan kacau. Entah bisikan dari mana yang aku dapat kala itu sehingga aku menerimanya. Waktu berselang hubungan ini berusia 6 bulan dan kami memutuskan untuk menikah. Saat berjalan di Altar banyak orang yang berbisik-bisik tampak tak suka tentang pernikahan kami. Juga restu, awanya kedua orangtuaku, dan orangtuanya tidak setuju. Berbagai macam cara untuk meyakinkan kedua orang tua kami, meskipun tak mudah kala itu pada akhirnya mereka mau menerimaku menjadi istri dari Nickhun. Meskipun ibu mertuaku belum sepenuhnya menerimaku, kami tetap hidup bahagia dengan cinta yang kami miliki...
Oleh: Septiya Ajeng Tri Rahayu
Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya
SeptiyaEunhyuk@blogspot.co.id
Hari yang melelahkan setelah banyak rutinitas, apa kabar dengan tubuh yang lemah ini? Nampaknya badanku terasa letih karna terlalu banyak pekerjaan kantor yang menumpuk. Aku menghela nafas dan berfikir apakah perempuan tua sepertiku akan bahagia dengan pekerjaan saja, aku bahkan menginginkan seseorang mengenakan cincin ke jari manisku.
Lamunanku pecah aku mulai berkonsentrasi akan jari-jari tanganku untuk mengetik laporan yang harus diserahkan besok. Ya namaku Arendelle gadis tua berusia 34 tahun, aku masih lajang semenjak hubungan percintaanku yang gagal 2 tahun silam, merasa trauma dan berfikir untuk hidup sendiri saja. Menaiki mobil menyetir sendiri lebih menyenangkan ketimbang ada yang mengantar jemput kemana-mana, layaknya supir aku sendiri bisa menjadi supir. Aku juga bisa mengangkat tas koperku sendiri meskipun berat aku merasa kuat dan tidak memerlukan seseorang untuk membawakanya.
Dirumah aku juga bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik memasak, mencuci, mengepel, membersihkan kamar mandi dan lain sebagainya. Mungkin ini karna aku terbiasa jadi aku tidak merasa kesepian, kedua orang tuaku tinggal di Jakarta dan sekarang aku juga berada di kota yang sama namun aku telah tinggal di Apartemenku sendiri. Jika boleh memilih pekerjaanku di kantor adalah hal yang utama, aku sudah tidak pernah memikirkan hal-hal yang tidak penting kencan ataupun menikah. Aku memiliki teman namun, temanku sudah berkeluaraga dan banyak juga yang sudah memiliki anak. Sesekali aku berkunjung dan bermain dengan anak-anak mereka.
Setelah memberikan laporan kepada atasanku aku diizinkan untuk berlibur 7 hari ya mungkin ini salah satu bonus karna selama ini telah bekerja keras, ia juga memberiku tiket liburan ke Jeju, ya pulau Jeju, Korea Selatan. Aku berfikir kenapa jauh sekali, dan berniat untuk menolak tiket itu tapi kalau aku rasa ide itu tidak buruk hingga, aku memutuskan untuk pergi.
“Nyonya kau menjatuhkan dompetmu,” ujar pria tak dikenal.
“Lain kali hati-hati nyonya”.
“ya, ya, ya baiklah,” jawabku.
Aku sudah tiba di Bandara dan menabrak seorang pria berambut lurus pendek bewarna coklat, ia bisa bahasa Indonesia, nampaknya ia orang Indonesia juga. Setelah sampai di Bandara Incheon Airport pukul 19.00 Korsel aku bergegas ke Hotel menaiki sebuah taxi, namun sebelum masuk ada pria gila yang tiba-tiba nyelonong masuk taxi yang sudah lebih dahulu aku hentikan.
“Hei kau, aku duluan yang menghetikan taksi ini, kau keluar!!!! usirku
“Maaf nyonya aku duluan, kau saja yang turun
“Apa katamu dasar, anak sial, berani-beraninya kau membantah orang yang lebih tua, kau turun
“ Iya iya nyonya tua, kau benar-benar tua dan jelek, hahahaha
“Anak kecil itu benar-benar gila, seenaknya dia ngatain orang yang baru ia kenal seperti itu apa dia gak pernah diajarin orangtuanya apa? batinku.
Sesampainya di hotel aku langsung menuju kamar yang sudah disediakan, aku berencana langsung istirahat saja agar besok bisa bersenang-senang. Namun tiba-tiba ponselku berbunyi, dan aku langsung mengangkatnya. Ternyata Serli teman kantorku yang juga berlibur di Jeju saat ini dan hendak mengajaku party malam ini juga di Kolam renang tempat hotel aku menginap. Tanpa berfikir panjang aku tak sengaja mengiyakan permintaan Serli, sebenarnya aku menyesal mau pergi kesana tapi mau gimana lagi.
Di samping kolam renang aku mencari teman kantorku Serli. Dia ternyata sedang duduk di bawah pohon bersama teman-teman yang lain. Serli melambaikan tanganya dan kubalas dengan melambaikan tanganku, aku langsung menghampirinya.
“Hai Arendelle kau sendirian saja mari aku kenalkan kepada teman-temanku, yang ini Dion, Fani, Tiger, Kyuhyun dan cowok yang ganteng itu Nickhun. Sambil menunjung pria yang memegang segelas minuman yang menghadap ke kolam
“Halo namaku Arendelle, salam kenal senang bertemu kalian
“Ya Arendelle usiamu berapa nampaknya kau sudah menikah, anakmu berapa? Tanya pria yang bernama Tiger, wajahmu seperti Ahjuma-Ahjuma dalam bahasa Korea (tante-tante)
“Kau gila beraninya berkata begitu terhadap temanku, dia belum menikah dan segera akan menikah,” bela Serli.
Aku mempoutkan bibirku sembari melototin Tiger benar-benar menjengkelken ucapan kata-kata pria itu, ingin rasanya aku menendang pantatnya dan meninju wajahnya hingga babak belur, namun aku mengendalikan diriku karena banyak orang aku tidak mau tambah malu. Hingga akhirnya aku diam saja. Aku melihat langit dan memandangi lampu gemerlap di party ini sambil makan hidangan pancake yang terhidang rapi dimeja. Tiba-tiba seorang pria yang nampak pernah aku lihat datang dari arah kolam sambil berbincang dengan Serli.
“Nickhun kau bisa meminjamkan mobilmu kepada Kyuhyun, ia hendak mengantarkan Fany ke rumah sakit, karna perutnya katanya sakit, ucap Serli
“Ya, tentu saja. Sambil mengeluarkan kunci di saku celananya”
“Kau ??? kau... kau ...kan pria gila ??? yang di taxi... bandara...??? tanyaku sambil menunjuk hidung pria gila itu”
“ oh iya kau kan gadis jutek yang tadi, sambil menghela nafas”
“Dunia ini benar-benar sempit ya, kenapa aku harus bertemu denganya lagi lirihnya....”
“Apa Kau bilang???? Tanyaku”
“Ah sudah lupakan” sahut Nikhun
“Oh jadi kalian sudah kenal. Tanya Serli bagus kalu begitu. Sambungnya.”
Aku melanjutkan aktivitasku sendiri sembari melihat pemandangan yang ada di sekitar tempat party. Aku benar-benar heran dengan mereka yang kebanyakan membawa pasangan apa mereka sudah menikah? Aku bertanya-tanya dalam hati. Sesekali dengan tidak sengaja aku mendapati Nickhun yang sendirian sambil minum segelas Bir di sebelah kolam dengan tatapan kosong, nampak ia sedang memikirkan sesuatu. Kuberanikan diri bertanya pada Serli yang duduk di sebelahku, sebetulnya aku hanya iseng-iseng sih.
Aku bertanya sebenarnya berapa umur Nickhun kepada Serli, namun Serli menjelaskan panjang lebar karna ia terkenal cerewet dan bawel. Ternyata umur pria itu masih muda sekitar 24 tahun ia masih dibangku kuliah dan anak orang kaya, bagi orang yang belum mengenalnya ia adalah anak aneh suka berbuat onar dan memancing keributan. Namun, akhir-akhir ini ia terlihat aneh dan pendiam, entah apa yang sedang ia pikirkan.
Keesokan harinya aku memutuskan untuk pergi bersama Serli dan kawan-kawan. Naik gunung yang tepat berada di selatan pulau Jeju. cuaca yang cerah juga membuat aku bersemangat, apalagi di pegunungan ini terkenal akan keindahanya sembari melihat lautan kita juga bisa memandangi pepohonan yang indah. Tiger dengan membawa lembaran peta menyebarkan kepada masing-masing kelompok, kelompok ini terdiri dari 3 anggota yang diundi secara acak. Betapa sialnya aku setelah mengetahi bahwa aku berada di kelompok Tiger dan Nickhun kedua orang yang sama-sama mengataiku tua. Benar- benar kesal dan kecewa setelah mengetahui aku menjadi anggota kelompok mereka.
“ Yah benar-benar sial kita berkelompok dengan Ajumha ini, ucap Tiger
“Apa katamu brengsek, balasku sambil mempoudkan bibirku
“Baik kita mulai saja, kita harus menemukan 5 cap, di peta ini cap pertama terletak di sebelah batu berwarna orange dan kita harus melewati sungai ini. Sambil menunjuk peta, ujar nickhun
Kami mulai perjalanan kami, hingga menemukan 5 cap itu, cap pertama sudah kami temukan, tinggal 4 cap lagi. Diperjalanan kami sangat kompak dan tidak ada pertengkaran berbeda sewaktu biasanya kita berbincang. Selang perjalanan aku kehilangan gelangku dan itu adalah gelang yang sangat istimewa karena diberi oleh mantanku terindah, meskipun aku sudah melupakanya namun itu adalah benda yang paling berkenang yang aku punya. Akupun berputar arah dan mencarinya. Nickhun menoleh kebelakang dan meneriakiku aku tidak mempedulikanya ia mengikutiku dari belakang dan menarik tanganku dari belakang.
“Kau mau kemana sih? misi kita belum selesai. Kamu mau pergi seenaknya setelah menemukan capnya kamu tinggal duduk enak begitu? tanya Nickhun.
“ Tidak, aku mencari gelangku yang hilang, Lepaskan! pintaku
“Hey kau tidak takut nyasar, disini hewanya buas-buas, ayo!! Ajak Nickhun”
“ Tidak mau, aku mau mencarinya. Sambil menitihkan air mata
“Ah benar-benar sial oke aku akan membantumu mencari. Berhenti menangis , arraseo????? Kau sudah tua, kau tak malu. Sambil mengelap air mataku.
“ kyaaa apa yang kau lakukan jangan pegang-pegang sahutku”
Ia membantuku mencari gelangku yang sampai sekarang tak kunjung ketemu, sedangkan Tiger sudah kembali ke perkemahan dari tadi. Nickhun benar-benar mencari gelangku dengan telaten apalagi setelah aku menceritakan akan kenangan gelang itu. Gelang itu benar-benar penting, setelah sekian lama aku berpacaran 8 tahun dan akhirnya kita putus meskipun demikian itu tetap saja berharga bagiku. Nickhun memandangiku akupun balas memandangnya, dan merasa bingung.
“Arendelle... ucap Nickhun
“Kenapa?? tanyaku
“Tidak hanya begitu saja, sambil tersenyum
“Kenapa sih? tanya ku lagi
“Yeopo”
“Hah???? Aku benar-benar tak mendengar suaranya yang lirih dan tiba-tiba ia tertidur dibahuku, aku memukulnya namun ia benar-benar tertidur dengan pulas. Mungkin dia kecapaian fikirku. Tiba-tiba ia bangun.
“Kyaaa kau hanya pura-pura? tanyaku. Ia mengeleng
“Aku ingin menikahimu
“What...??? kau gila imbuhku. Buuukkk ,,,,sambil memukul kepalanya.
“Serius, aku menyukaimu semenjak kita pertama bertemu, aku memikirkan ini dan hatiku bergetar saat kau disampingku” sambil memegang tangan Arendelle
“Issshhhhhh dasar gila kau anak kecil, kau tau berapa usiaku? keponakanku saja lebih tua darimu, ishhh jangan becanda” aku memukul kepalanya lagi.
Aku benar-benar kaget dengan yang dikatakan oleh Nickhun beberapa hari yang lalu, ia nampak tak sedang becanda kala itu. Namun, aku hanya diam terhadapnya dan selalu menghindar, apabila ia mendekat terhadapku. Saat ini adalah hari terakhir kita di Jeju, aku melihat kearahnya wajahnya begitu muram kemudian ia melihatku dan akupun mengalihkan wajahku agar tak terlihat olehnya. Kami berpisah satu sama lain ketika di Bandara Soe-Hatta, aku langsung pulang ke Apartemenku setelah itu. Aku merasa tidak enak sekali dengan liburan kali ini, entah perasaan apa ini namun, aku merasa bersalah terhadap Nickhun.
Seminggu setelah liburan pun berlalu aku pun sudah mulai kerja tiba-tiba Serli bercerita tentang Nichkun yang sedang sakit di rumah sakit, dan berniat mengajaku menjenguknya dengan teman-teman yang lain. Tanpa berfikir aku mengiyakan ajakan itu karna aku juga sedikit khawatir akan keadaan Nickhun saat ini. Setibanya di Rumah Sakit aku langsung menemui Nickhun yang terbaring selepas selesai oprasi usus buntu, melegakan sekali setelah mendengar oprasinya lancar.
Ia pun menatap wajahku terus menerus hingga aku bingung untuk mengabaikanya lagi seperti apa. Aku hendak pergi meninggalkan ruang rawatnya dan ia berteriak
“Kyaaa Ajumhaa kau mau pergi menghindar lagi ya? Aku mencintaimu, maukah kau menjadi Istriku? teriaknya..
Akupun menghentikan langkahku setelah mendengar teriakanya, aku membalikan badanku, dan mendengarkanya bebicara”
“Aku tau, kau masih menyukai mantanmu yang sialan itu, dan usiaku bukan tipemu kan? Tapi kalau kau memilihku aku akan membahagiakanmu dan gak akan pernah meninggalanmu sedetik pun.”
“Bukan hanya itu ishhh kau tidak akan pernah mengerti, kita berbeda usia sangat jauh kau pikir orangtuamu akan setuju dengan itu ha? jawabku
Aku bingung saat itu, aku juga menyukainya, tapi perbedaan ini yang membuat aku lemah dan kacau. Entah bisikan dari mana yang aku dapat kala itu sehingga aku menerimanya. Waktu berselang hubungan ini berusia 6 bulan dan kami memutuskan untuk menikah. Saat berjalan di Altar banyak orang yang berbisik-bisik tampak tak suka tentang pernikahan kami. Juga restu, awanya kedua orangtuaku, dan orangtuanya tidak setuju. Berbagai macam cara untuk meyakinkan kedua orang tua kami, meskipun tak mudah kala itu pada akhirnya mereka mau menerimaku menjadi istri dari Nickhun. Meskipun ibu mertuaku belum sepenuhnya menerimaku, kami tetap hidup bahagia dengan cinta yang kami miliki...

Komentar
Posting Komentar