"Dapur di Rumah Tua"


DAPUR DI RUMAH TUA
Oleh:
Septiya Ajeng Tri Rahayu*

Ketika tercium harum semerbak dari ruangan itu, aku memejamkan mata dan menikmati wangi aroma gula pasir yang meleleh. Kulangkahkan kaki mendekati sumber wangi yang membutku penasaran sejak tadi. Perlahan bola mata ini tak berhenti mencari kesana kemari dan menemukan ruangan yang cukup luas. Terdapat dinding pemisah anatara ruangan ini dengan gudang, tepat di sebelah kanan dinding ini terdapat lorong sekitar satu kali satu meter persegi, dengan pintu yang sudah rapuh. Setiap kali memasuki pintu itu harus berhati-hati karena bisa saja pintu yang sudah usang itu roboh  dan mengenai badan.
Tepat di atas ruangan terdapat lampu yang berwarna orange dilengkapi dengan kipas angin  yang menyatu diatasnya. Kipas angin layaknya daun kering yang hampir gugur karena tertimpa angin. Sangat berbahaya sudah tidak layak, aku juga melihat baling-baling yang hampir copot karna seekor serangga hinggap di atasnya.
Sedikit pusing karena melihat kipas angin lalu, kuarahkan pandanganku lurus ke depan, di atas sebuah kursi kecil tidak berkaki. Aku memutar pandanganku ke belakang, tiba –tiba dari arah samping terlihat sosok berdiri tegap mengiris sebuah bawang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ke atas. Tadi sepertinya  tidak ada siapapun disana, aku sampai terkejut melihatnya. Hampir copot bola mataku karena terlalu lama memandangi orang itu, lelaki itu tetap dengan bawangnya mengiris dan sekarasg giliran memotong ayam. Ayam yang dipotongnya belum dicabuti bulunya hingga bersih, karna masih terlihat putih-putih kasar di permukaan dagingnya.

Tepat di atas meja terdapat roti bolu yang tertata rapi di sebuah piring silver.  Agak aneh memang aku melihat tempat sampah diletakkan di atas meja tepat di samping roti itu. Bukan hanya itu, rak tempat alat dapur yang terbuat dari kayu berwarna hitam itu sangat kecil, rak bambu tersusun empat yang hanya muat untuk piring dan sendok saja. Di antara kulkas dan  meja makan terdapat dua kursi reok dilengkapi dengan cangkir yang terbuat dari bambu. Bambu itu bertuliskan salah satu huruf jawa yang sangat besar dan terukir rapi berwrna biru keunguan.
Di pojok sebelah kanan terdapat oven gede yang menempel ke dinding di sebelah lemari. Di sebelah lemari tepatnya juga terdapat kompor cooker hood.  Tepat di atas kompor itu agak kanan tergantung rak kecil berisikan bumbu-bumbu dapur. Oven yang berdekatan dengan kompor memang agak mengganggu pemandangan, sudah tempatnya tua bagaimana jika ruangan ini terbakar. Di sisi rak ada foto-foto kecil tertempel tidak beraturan yang  sudah lusuh, nampaknya foto itu diambil sudah cukup lama.
Jendela-jendela besar di dinding yang bersebrangan dengan pintu dari arah gudang ditutupi tirai berwarna coklat tua. Dibawah salah satu jendela terdapat umbi-umbian tergeletak berceceran bersama beras, tepung dan kotak-kotak kecil hingga sedang masih menjadi misteri. Aku mengintip dari pintu masuk dapur itu yang terbuka, di sampping kanan pintu terdapat tempat untuk mencuci piring. Banyak ember-ember berisikan air yang keruh  yang nampak digunakan untuk mencuci peralatan kotor saat selesai memasak. Sisa airnya pun tidak dibuang, hingga warnanya coklat kehitaman bercampur arang sisa dari salah satu panci.
Panci itu tercampur di atas ember yang berisikan air, sedangkan ember yang digunakan sedikit lebih kecil dari panci tersebut. Sangat busuk bau yang tercium, mungkin karna aku berdiri dekat dengan ember itu tepat di dinding sebelah kanan, disisi lain harum aroma roti yang bersumber dari  atas oven sangat manis dan harum. Bau yang cukup unik menurutku bau dari cucian panci dan harum aroma roti yang sangat sedap. Ditambah bau dari salah satu kompor, seperti aroma ayam goreng kecap yang manis dan gurih.


Dibelakang lemari panjang itu terdapat kayu kaca yang hampir lolos dari pandanganku, lebih banyak roti lagi yang terpampang disana, roti baguette,  pita, ciabatta, bredsticks, croissnt, bagel, facccia, crumpet. Memang spektakuler dapur ini roti-rotinya pun diberi nama dengan tulisan bendera dari masing-masing rotinya. Bahkan di salah satu kaya kaca itu juga terdapat aneka makan tradisional yang  bermacam-macam seperti bika ambon, rendang,  gulai ikan, gulai belacan, otak-otak, dan seterusnya. Semua dinamai menggunakan bendera kecil  yang berdiri di atasnya. Sungguh aneh rumah tua yang memiliki kaca-kaca berstruktur bagus ada di sini.
Sisa ruangan yang terletak di sebelah pojok kiri terdapat sebuah kayu bertingkat, di situ banyak aksara-aksara jawa yang panjang dang lebar dan di atas kayu tersebut tertempel potongan-potongan lontar yang beraneka macam, isi dari kayu itu adalah  koin logam yang tertata rapi  dari atas ke bawah hingga memenuhi seluruh bagian dari kayu tersebut. Koin-koin itu banyak  dirubungi semut-semut kecil yang mengintari, mungkin koin itu terbuat dari gula yang memancing kehadiran para semut-semut itu.
Bau gula yang menyengat semakin menjadi-jadi ditambah aroma bau panci dan ayam, kulayangkan pandanganku dan menuju sumber gula itu terlebih dahulu. Aku memutuskan menuju ke tempat kayu penyimpanan koin tersebut meskipun sedikit takut. Kupegang koin itu dan mengamatinya dalam-dalam dan ternyata itu adalah sebuah coklat yang sudah meleleh. Belum aku meletakkan koin, tiba-tiba ada seorang yang memegang bahuku, aku sontak kaget dan membalikkan badan. Ternyata pria tegap yang tadi memotong bawanglah yang ada di hadapanku, aku langsung kabur dan cepat-cepat menutup pintu yang ada di dapur dan menjauh dari tempat tua itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna Lagu One More Chance "Super Junior"

SUSUNAN SOAL KETRAMPILAN BERBICARA MURID SMA (FORMAT PENILAIAN KOMPONENEN BERBICARA DAN PEDOMAN PENSKORAN NILAI)

Kesenian Jaranan "Turonggo Joyo Saputro" Wates-Kediri Jawa Timur