Kajian Feminisme terhadap Tokoh Utama dalam novel "Secuil Hati Wanita di Teluk Eden'" karya VANNY CHARISMA W.
KAJIAN FEMINISME TERHADAP TOKOH UTAMA DALAM NOVEL SECUIL HATI WANITA DI TELUK EDEN KARYA VANNY CHARISMA W.
Oleh :
Septiya Ajeng Rahayu
Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya
Pendahuluan
Fenimisme yang berhubungan dalam sastra sering dikenal dengan konflik feminisme. Sudah kita ketahui bahwa cerita hidup terkadang menjadi sebuah hal yang paling ingin diketahui bagi sebagaian orang, novel yang berjudul Secuil Hati Wanita di Teluk Eden Vanny Charisma W. ini terdapat berbagai masalah atau konflik didalamnya. Kemudian, perilaku salah satu tokoh yang terdapat dalam novel ini dilakukan dianggap sebagai sebuah perubahan sikap secara mendadak sehingga menjadikan novel ini menarik..
Seperti karya-karya sastra yang lain yang juga bertemakan ketidak adilan. Dalam novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden ini mudah dipahami. Sehingga tidak serumit novel lain yang terkadang meloncat-loncat berbeda dari sebuah kenyataan dan realitas. Jika dibandingkan maka, novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden memberikan kemudahan untuk mengenal isi tentang konflik Dela Eden dengan sang suami menjadi bentuk perjuangan tokoh utama. Tokoh utama bergerak melawan ketidakadilan gender dan kekerasan yang menimpa dirinya sehingga pembaca ikut merasakan gejolak yang dialami oleh tokoh utama.
Berdasarkan latar belakang pada poin di atas, permasalahan yang dibahas dalam makalah ini ialah, salah satu pendukung teori Fenimisme dalam Novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden yang pada dasarnya penulis yaitu Vanny Charisma W. Karya sastra dapat dikatakan sebuah cerminan tertulis dari sebuah kehidupan feminis dan budaya sosial dalam masyarakat.
Mengetahui dan mencari tahu masalah sosial feminisme dari kondisi tokoh utama seperti kisah rumah tangga yang kurang sesuai dengan etika yang kental sekali dalam novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden. Tokoh-tokoh utamanya yaitu seperti Della Eden yang memperjuangkan keadilan dirinya sebagai seorang istri dan sang suami Akinsanya, merupakan tokoh yang mengalami konflik berkepanjangan seperti kekerasan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan sang suami terhadap Della.
Hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan lebih dalam akan novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden serta gambaran tentang penindasaan terhadap kaum perempuan yang kebanyakan dilakukan oleh orang terdekat, sehingga dapat dijadikan sumber pembelajaran bagi pembaca.
Teori
Fenimisme merupakan kajian sosial yang melibatkan kelompok-kelompok perempuan yang tertindas. Feminisme merupakan pergerakan kaum perempuan untuk memperoleh otonomi atau kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Feminisme mencapai tujuanya yaitu membebaskan perempuan, laki-laki menjadi perjuangan perempuan. Kemudian dalam novel ini tapi untuk sementara perilaku negatif dari pada laki-laki yang mempengaruhi perempuan secara individu dengan perbedaan derajat.
Kritik sastra feminis merupakan kesadaran pembaca sebagai wanita, yakni kesadaran pembaca bahwa ada perbedaan penting dalam jenis kelamin artinya jenis kelamin yang berhubungan dengan budaya sastra dan kehidupan serta membongkar dugaan tentang kekuasaan laki-laki untuk membantu membongkar bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang dialami oleh perempuan serta bentuk-bentuk perjuangan yang dilakukan oleh tokoh utama untuk melepaskan diri dari keadaaan tersebut.
Beberapa perempuan menginternalisasi keyakinan seksis dan perilaku tunduk kepada tingkat yang lebih besardari pada yang kain, artinya tidak dapat merangkul feminisme. Feminis secara konstan bersifat kritis terhadap tatanan sosial yang ada dan memusatkan perhatian terhadap sosiologi esensial seperti ketimpangan sosial, kekuasaan, pendidikan, keluarga, institusi politik, dan lain-lain. Teori Psikoanalitas Feminis akan menjelaskan tentang penindasan perempuan ataupun berdasarka driskripsi yang lain .
Di Indonesia sendiri, paham feminisme berkembang cukup pesat. Lagi-lagi hanya segelintir perempuan yang melibatkan diri untuk menjadi bagian dari gerakan tersebut. Tidak semua perempuan paham akan makna feminisme yang sesungguhnya. Pertama, karena perempuan masa kini tidak lahir di era dimana perempuan-perempuan benar-benar dijadikan mahluk subordinat di dalam kehidupan masyarakat. Perempuan kini tidak perlu merasakan apa yang dirasakan Kartini, dirampas hak pendidikannya, walaupun sebagian kecil masih ada masyarakat yang menerapkan budaya ini. Kedua, perempuan yang kini mengklaim dirinya sebagai feminis lahir melalui sebuah kontemplasi pikiran perempuan dengan pengalaman. Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh buku-buku studi literatur feminisme, dan juga buku-buku yang mengangkat pengalaman perempuan yang tertindas oleh budaya patriarki.
Tidak menutup kemungkinan juga bahwa kontemplasi pikiran dan pengalaman perempuan tidak menghasilkan suatu interpretasi yang sama. Sehingga, seringkali paham feminisme berkembang menjadi paham-paham yang lain seperti; feminisme radikal, feminisme Marxist, feminisme lesbian dan lain-lain. ada masa itu, segelintir kaum perempuan yang diklaim sebagai feminis, berjuang untuk memperoleh hak-nya sebagai warga negara. Salah satu hal yang ditekankan dari gerakan feminis ini adalah perempuan ingin mendapatkan akses untuk pekerjaan yang layak, perempuan ingin mendapatkan akses pendidikan, dan perempuan ingin mendapatkan hak-nya untuk berpolitik. Singkatnya, perempuan menuntut hak yang sama dengan yang kaum laki-laki dapatkan.
Paham yang hanya dipahami segelintir perempuan ini tentu mengundang banyak kritik, tidak hanya dari kaum laki-laki saja tetapi juga dari sesama kaum perempuan. Feminisme seringkali dianggap sebagai paham yang justru melemahkan posisi perempuan, karena seolah-olah perempuan menuntut sesuatu yang ‘lebih’ dan ‘spesial’. Padahal, jika ditelusuri kembali pada akar tujuannya, gerakan feminisme menuntut equal right bukan special right. Pengkritik feminisme juga melontarkan kritik keras Setelah emansipasi. Gerakan feminisme kini seringkali dipandang ‘keluar jalur’. Kebebasan feminis sudah kebablasan. Feminis menuntut hak untuk aborsi, hak untuk memiliki pasangan sesama jenis, dan lain sebagainya.
Dan hal inilah yang juga membuat gap antara perempuan feminis dengan perempuan yang bukan feminis. Feminis yang semestinya menyentuh kaum perempuan, justru malah menjadi musuh untuk kaumnya sendiri. Gap ini juga terbentuk karena tidak adanya komunikasi yang terjalin dengan baik antara perempuan yang feminis dengan perempuan yang tidak feminis. Sehingga, seringkali pula sekelompok perempuan feminis dicap eksklusif dan hanya bisa bergaul dengan sesama teman kelompoknya.
Perlu kita sadari bahwa tidak semua perempuan memiliki pendapat yang sama tentang bagaimana kaumnya harus hidup di tengah masyarakat. Kini sebagian besar perempuan modern sudah dapat menikmati akses yang begitu luas dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan pemerintahan. Yang ratusan tahun diperjuangkan feminis, yaitu equal right sudah ada di tangan perempuan-perempuan modern. Lantas, yang menjadi permasalahan saat ini adalah, bagaimana hak yang sudah ada di tangan itu bisa dimanfaatkan secara maksimal? Peran pendidikan sangatlah penting.
Di era Kartini perempuan berjuang untuk menghilangkan struktur sosial yang menempatkan perempuan pada posisi lebih bawah, dan berjuang demi mendapatkan haknya. Kini di era globalisasi, di satu sisi globalisasi ini membuka akses yang luas untuk perempuan dalam berbagai bidang. Di sisi lain, globalisasi memberikan beban yang lebih berat bagi perempuan karena perempuan harus mampu meningkatkan kualitas dirinya demi meningkatkan kualitas hidupnya.
Metode
Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif dan bentuk yang digunakan ialah kualitatif. Penelitiaan kualitatif ialah peneliti langsung berhadapan dengan sastra sebagai sumber data, dalam penelitian data yang dikumpulkan berupa kata-kata maupun kalimat dan tidak terdapat angka-angka. Bertujuan menemukan teori lapangan deskriptif dengan menggunakan metode berfikir induktif (Moleong, 2010:8-13).
Dengan demikian laporan penelitian berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan data tersebut. Data berupa kutipan yang diperoleh harus dideskripsikan atau dipaparkan apa adanya sehingga pada akhirnya akan diketahui tentang feminisme yang terdapat dalam novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden karya Vanny Charisma W. Serta pengumpulan data serta pengolahanya ialah secara langsung pada novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden agar mendapatkan data yang sesuai
..
Pembahasan Prilaku ; Tokoh Utama
Dela Eden seorang wanita yang tinggal di Mogadhisu, yang selalu dengan setia menanti suaminya. Suaminya bernama Akinsanya. Akinsanya merupakan seorang mantan nelayan seng beralih profesi menjadi bajak laut. Dan semenjak beralih profesi Akinsanya berubah perilakunya. Sering berbuat tidak menyenangkan, kasar, jahat dan bertindak semena-mena. Sikap sabar Dela Eden sangat luar biasa meskipun ia berada dalam kehidupan yang tidak berkecukupan.
Berbeda dengan suaminya Akinsanya. Akinsanya merasa menderita ketika melihat keluarganya selalu dalam kekurangan. Apalagi kebutuhan mereka bertambah banyak ketika memiliki anak. Tentu saja kebutuhannya akan bertambah besar. Akinsaya akhirnya menyetujui menjadi bajak laut bersama teman melautnya bernama Barack dan mulai merampok atas perintah ketuanya. Hal itulah yang membuat perliku sang suami yang dulunya baik dan penyayang kini menjadi kasar dan bengis terhadap istrinya.
Dengan adanya tujuan analisis novel Secuil Hati Wanita di Teluk Edense melalui metode deskriptif dan kualitatif sehingga ditemukan beberapa masalah yang harus dikaji lebih dalam diantaranya sebagai berikut;
1.1 Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender Tokoh Utama
Bentuk-bentuk ketidakadilan gender, berdasarkan kodrati penciptaan tokoh utama diciptakan berpasangan Della Eden dan sang suami yang seharusnya saling melengkapi sebagai mahluk sosial. Keduanya diciptakan berbeda sebagai pelengkap untuk mendapatkan sinergi yang baru.
Dalam novel Secuil Hati Wanita di Teluk Edense adalah pelabelan negatif Della Eden yang dituduh selingkuh oleh suaminya. Pekerjaan sebagai bajak laut yang jauh dari keluarga membuat jarak antara mereka merengang. Saling tidak percaya menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan rumah tangga namun,prilaku suami Della Eden ini cenderung berlebihan. Ia menuduh hal yang bukan-bukan terhadap sang istri, segala perkataan yang diucapkannya dianggap bohong oleh sang suami. Kekerasan yaitu berupa kekerasan fisik seperti Della ditampar oleh suaminya, Della dikurung di dalam kamar oleh suaminya, serta mendapat perlakuan kasar dari sang suami saat ia sedang mengandung.
Kekerasaan emosional Della dibentak oleh suaminya, ia juga dijauhin oleh putranya sendiri. Ia juga di tinggal suaminya sehingga ia merasa sangat kesepian. Serta kekerasan publik yang dilakukan suami ialah berupa hinaan dari para tetangga dan saat Della dimaki-maki oleh suaminya di hadapan orang banyak.
Ketergantungan kaum laki-laki terhadap perempuan merupakan dasar keharmonisan meskipun dalam kenyataanya sering terjadi perlakuan diskriminasi, tindak kekerasan. Untuk itu perlu merubah mainset terhadap pandangan tentang gender ini. Setiap orang memiliki kesamaan hak keadilan serta kesetaraan dan memiliki hak perlindungan melalui keluarga sebagai hal utama. Terwujudnya perekonomian yang rendah mampu menyediakan kesempatan berperilaku menyimpang dan hancurnya fondasi yang mulanya kokoh dalam sebuah keluarga.
Dalam perubahan peran status akan keduanya terutama suami menjadi kebiasaan yang membudaya, terciptanya perlakuan diskriminatif terhadap Della. Perlakuan individu muncsul akibat sifat-sifat cemburu tidak wajar.
Keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih utama. Banyak anggapan yang menetapkan kedudukan kaum perempuan lebih rendah ketimbang kaum laki-laki dan cenderung berbuat seenaknya. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai dari masyarakat terutama dalam novel ini untuk membatasi ruang gerak terutama kaum perempuan. Misalnya pemaksaan yang dilakukan istri Della yang mengurungnya dan menguncinya di kamar dan lain sebagainya.
1.2 Bentuk Perjuangan Tokoh Utama
Mulainya perjuangan tokoh utama untuk mewujudkan kesetaraan gender menjadi penopang pergeseran serta perubahan sikap dari sang suami. Perubahan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan, menurunya sikap kemanusiaan, serta keharmonisan dalam keluarga tersebut. Tokoh utama memiliki target akan kecukupan di bidang ekonomi melalui kemiskinan dan kelaparan yang secara tidak langsung meyakinkan suaminya tidak melakukan perbuatan menyimpang.
Ia memperjuangkan haknya sebagai seorang perempuan yang mampu melindungi keluarga serta anak-anaknya bebas dari kemiskian, keterbelakngan, ketidakadilan, penindasan, serta rasa takut mengemukakan pendapat. Pemberian pemahaman kepada sang suami dan anaknya agar mereka bisa memahami perasaan dan keadaaan Della Eden yang sedang merasa titindas atau perubahan sikap suami dan anaknya yang menjadi kasar, semen-mena dan tidak mempedulikan kondisi Della yang sedang hamil.
Hubungan antara tokoh utama dengan suaminya memiliki berbagai peran yang dijalankan oleh masing-masing. Struktur keluarga miskin, desa, keluarga cukup lengkap dengan memiliki anak yang bekerja sebagai nelayan. Hal ini diperluas dengan ketidakseimbangan gendeer dan menimbulkan masalah sehingga merugikan salah satu pihak.
Sebagai istri dan juga kaum perempuan Della membandingkan sikap melalui ekonomi yang tertinggal, kesewenang-wenangan terhadpnya. Sehingga ia ingin berperan meningkatkan aktivitas yang merugikan dirinya dan anaknya. Ia hendak menurunkan frekuensi kekerasan yang dilakukan oleh sang suami terhadapnya kususnya merubah sikap buruk ke sikap awal yang dimiliki oleh suaminya.
1.3 Pemahaman Tokoh Utama sebagai Kaum Wanita
Dari sifat tokoh utama serta pemahaman tokoh utama terhadap keadaan ekonominya bisa dibilang terarah, misalnya ketika Akinssanya, pulang melaut. Ia hanya memperoleh sedikit ikan, sehingga tidak ada yang bisa dijual lagi untuk membeli beras. Mereka sekeluarga hanya memakan ikan saja. akan tetapi bagi Della apapun yang ia makan tidak terlalu penting, yang terpenting adalah suaminya pulang dengan selamat saja sudah membuat dirinya bahagia. (hal.16-22). Kesadaran sang istri akan pekerjaan suami perlu untuk memahami permasalahan dan untuk memahami peran gender itu sendiri.
Della megetahui dari berbagai perbedaan karakter oleh suaminya, proses penyisihan mengakibatkan keterpuruka. Segala pegerjaan ia tersingkir yang hanya memfokuskan ego. Sebagai pemahaman utama mampu mengontrol antara laki-laki dan perempuan, dengan demikian ia harus menjelaskan kedudukan, peranan serta hak dan kewajiban mereka dalam berumah tangga sehingga, kesetaraan dapat dipelajari bersama dan memperkecil sikap ego dari sang suami.
1.4 Alih Pandangan
Dari pemaknaan negatif yang bermunculan secara umum dapat melairkan titik ketidakadilan salah satu yang memperlihatkan pandangan gender salah satu jenis perempuan misalnya
a. Pekerjaan yang dilakukan oleh Della sebagai ibu rumah tangga dan juga sebagai seorang ibu seperti; mencuci, memasak, membersihkan rumah, dan menunggu sang suami dengan cara mencukupi kebutuhan yang diperlukan sang suami pada saat menjadi nelayan
b. laki-laki sebagai figur menari nafkah bagi keluarganya. Hal yang utama dilakukan seorang laki-laki sebagai seorang suami ialah mencari nafkah. Pencari nafkah harus diperlakukan secara istimewa di dalam rumah. Tidak ada hal yang paling penting ketimbang pencari nafkah. Hal ini tidak hanya terjadi dalam rumah tangga saja. apabila perempuan marah dianggap bertingkah emosional dan tidak pantas.
.
Kesimpulan
Berdasarkan kajian dari novel Secuil Hati Wanita di Teluk Edense dapat disimpulkan bahwa kajian feminisme tokoh utama memiliki bentuk keetidakadilan gender yang dialaminya. Sikap yang cenderung negatif karena menganggap perempuan sebagai sumber kesalahan, dari data yang ditemukan dalam novel tokoh utama dituh berselingkuh sehingga terjadi kekerasan berupa serengan fisik maupun psikologis. Kekerasan fisik dialaminya saat Della ditampar oleh suaminya, tanganya ditepiskan dari anaknya hingga pengurungan di dalam kamar. Dan yeng terakhir kekerasan emosional dalam novel Secuil Hati Wanita di Teluk Edense yaitu Della dibentak dan diancam dibentak oleh suaminya. Ia juga dijauhi oleh anaknya dan Della merasa sedih ditinggal suaminya.
Daftar Pustaka
Chrisma, Vanny W. 2012. Secuil Hati Wanita di Teluk Eden. Yogyakarta; Berlian Diva Press.
Zina, Nino. 2013. Kesetaraan dan Keadilan Gender, ninoznina.wongjawaasli.com, wongjawaasli.blogspot.co.id. 25 Mei 2016.
Hidaty, Ciphap. 2013. Fenimisme dan Jenisnya. Ciphaphidaty.blogspot.com. 25 Mei 2016
.
Oleh :
Septiya Ajeng Rahayu
Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya
Pendahuluan
Fenimisme yang berhubungan dalam sastra sering dikenal dengan konflik feminisme. Sudah kita ketahui bahwa cerita hidup terkadang menjadi sebuah hal yang paling ingin diketahui bagi sebagaian orang, novel yang berjudul Secuil Hati Wanita di Teluk Eden Vanny Charisma W. ini terdapat berbagai masalah atau konflik didalamnya. Kemudian, perilaku salah satu tokoh yang terdapat dalam novel ini dilakukan dianggap sebagai sebuah perubahan sikap secara mendadak sehingga menjadikan novel ini menarik..
Seperti karya-karya sastra yang lain yang juga bertemakan ketidak adilan. Dalam novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden ini mudah dipahami. Sehingga tidak serumit novel lain yang terkadang meloncat-loncat berbeda dari sebuah kenyataan dan realitas. Jika dibandingkan maka, novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden memberikan kemudahan untuk mengenal isi tentang konflik Dela Eden dengan sang suami menjadi bentuk perjuangan tokoh utama. Tokoh utama bergerak melawan ketidakadilan gender dan kekerasan yang menimpa dirinya sehingga pembaca ikut merasakan gejolak yang dialami oleh tokoh utama.
Berdasarkan latar belakang pada poin di atas, permasalahan yang dibahas dalam makalah ini ialah, salah satu pendukung teori Fenimisme dalam Novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden yang pada dasarnya penulis yaitu Vanny Charisma W. Karya sastra dapat dikatakan sebuah cerminan tertulis dari sebuah kehidupan feminis dan budaya sosial dalam masyarakat.
Mengetahui dan mencari tahu masalah sosial feminisme dari kondisi tokoh utama seperti kisah rumah tangga yang kurang sesuai dengan etika yang kental sekali dalam novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden. Tokoh-tokoh utamanya yaitu seperti Della Eden yang memperjuangkan keadilan dirinya sebagai seorang istri dan sang suami Akinsanya, merupakan tokoh yang mengalami konflik berkepanjangan seperti kekerasan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan sang suami terhadap Della.
Hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan pengetahuan lebih dalam akan novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden serta gambaran tentang penindasaan terhadap kaum perempuan yang kebanyakan dilakukan oleh orang terdekat, sehingga dapat dijadikan sumber pembelajaran bagi pembaca.
Teori
Fenimisme merupakan kajian sosial yang melibatkan kelompok-kelompok perempuan yang tertindas. Feminisme merupakan pergerakan kaum perempuan untuk memperoleh otonomi atau kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri. Feminisme mencapai tujuanya yaitu membebaskan perempuan, laki-laki menjadi perjuangan perempuan. Kemudian dalam novel ini tapi untuk sementara perilaku negatif dari pada laki-laki yang mempengaruhi perempuan secara individu dengan perbedaan derajat.
Kritik sastra feminis merupakan kesadaran pembaca sebagai wanita, yakni kesadaran pembaca bahwa ada perbedaan penting dalam jenis kelamin artinya jenis kelamin yang berhubungan dengan budaya sastra dan kehidupan serta membongkar dugaan tentang kekuasaan laki-laki untuk membantu membongkar bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang dialami oleh perempuan serta bentuk-bentuk perjuangan yang dilakukan oleh tokoh utama untuk melepaskan diri dari keadaaan tersebut.
Beberapa perempuan menginternalisasi keyakinan seksis dan perilaku tunduk kepada tingkat yang lebih besardari pada yang kain, artinya tidak dapat merangkul feminisme. Feminis secara konstan bersifat kritis terhadap tatanan sosial yang ada dan memusatkan perhatian terhadap sosiologi esensial seperti ketimpangan sosial, kekuasaan, pendidikan, keluarga, institusi politik, dan lain-lain. Teori Psikoanalitas Feminis akan menjelaskan tentang penindasan perempuan ataupun berdasarka driskripsi yang lain .
Di Indonesia sendiri, paham feminisme berkembang cukup pesat. Lagi-lagi hanya segelintir perempuan yang melibatkan diri untuk menjadi bagian dari gerakan tersebut. Tidak semua perempuan paham akan makna feminisme yang sesungguhnya. Pertama, karena perempuan masa kini tidak lahir di era dimana perempuan-perempuan benar-benar dijadikan mahluk subordinat di dalam kehidupan masyarakat. Perempuan kini tidak perlu merasakan apa yang dirasakan Kartini, dirampas hak pendidikannya, walaupun sebagian kecil masih ada masyarakat yang menerapkan budaya ini. Kedua, perempuan yang kini mengklaim dirinya sebagai feminis lahir melalui sebuah kontemplasi pikiran perempuan dengan pengalaman. Pemikiran ini sangat dipengaruhi oleh buku-buku studi literatur feminisme, dan juga buku-buku yang mengangkat pengalaman perempuan yang tertindas oleh budaya patriarki.
Tidak menutup kemungkinan juga bahwa kontemplasi pikiran dan pengalaman perempuan tidak menghasilkan suatu interpretasi yang sama. Sehingga, seringkali paham feminisme berkembang menjadi paham-paham yang lain seperti; feminisme radikal, feminisme Marxist, feminisme lesbian dan lain-lain. ada masa itu, segelintir kaum perempuan yang diklaim sebagai feminis, berjuang untuk memperoleh hak-nya sebagai warga negara. Salah satu hal yang ditekankan dari gerakan feminis ini adalah perempuan ingin mendapatkan akses untuk pekerjaan yang layak, perempuan ingin mendapatkan akses pendidikan, dan perempuan ingin mendapatkan hak-nya untuk berpolitik. Singkatnya, perempuan menuntut hak yang sama dengan yang kaum laki-laki dapatkan.
Paham yang hanya dipahami segelintir perempuan ini tentu mengundang banyak kritik, tidak hanya dari kaum laki-laki saja tetapi juga dari sesama kaum perempuan. Feminisme seringkali dianggap sebagai paham yang justru melemahkan posisi perempuan, karena seolah-olah perempuan menuntut sesuatu yang ‘lebih’ dan ‘spesial’. Padahal, jika ditelusuri kembali pada akar tujuannya, gerakan feminisme menuntut equal right bukan special right. Pengkritik feminisme juga melontarkan kritik keras Setelah emansipasi. Gerakan feminisme kini seringkali dipandang ‘keluar jalur’. Kebebasan feminis sudah kebablasan. Feminis menuntut hak untuk aborsi, hak untuk memiliki pasangan sesama jenis, dan lain sebagainya.
Dan hal inilah yang juga membuat gap antara perempuan feminis dengan perempuan yang bukan feminis. Feminis yang semestinya menyentuh kaum perempuan, justru malah menjadi musuh untuk kaumnya sendiri. Gap ini juga terbentuk karena tidak adanya komunikasi yang terjalin dengan baik antara perempuan yang feminis dengan perempuan yang tidak feminis. Sehingga, seringkali pula sekelompok perempuan feminis dicap eksklusif dan hanya bisa bergaul dengan sesama teman kelompoknya.
Perlu kita sadari bahwa tidak semua perempuan memiliki pendapat yang sama tentang bagaimana kaumnya harus hidup di tengah masyarakat. Kini sebagian besar perempuan modern sudah dapat menikmati akses yang begitu luas dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan pemerintahan. Yang ratusan tahun diperjuangkan feminis, yaitu equal right sudah ada di tangan perempuan-perempuan modern. Lantas, yang menjadi permasalahan saat ini adalah, bagaimana hak yang sudah ada di tangan itu bisa dimanfaatkan secara maksimal? Peran pendidikan sangatlah penting.
Di era Kartini perempuan berjuang untuk menghilangkan struktur sosial yang menempatkan perempuan pada posisi lebih bawah, dan berjuang demi mendapatkan haknya. Kini di era globalisasi, di satu sisi globalisasi ini membuka akses yang luas untuk perempuan dalam berbagai bidang. Di sisi lain, globalisasi memberikan beban yang lebih berat bagi perempuan karena perempuan harus mampu meningkatkan kualitas dirinya demi meningkatkan kualitas hidupnya.
Metode
Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif dan bentuk yang digunakan ialah kualitatif. Penelitiaan kualitatif ialah peneliti langsung berhadapan dengan sastra sebagai sumber data, dalam penelitian data yang dikumpulkan berupa kata-kata maupun kalimat dan tidak terdapat angka-angka. Bertujuan menemukan teori lapangan deskriptif dengan menggunakan metode berfikir induktif (Moleong, 2010:8-13).
Dengan demikian laporan penelitian berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan data tersebut. Data berupa kutipan yang diperoleh harus dideskripsikan atau dipaparkan apa adanya sehingga pada akhirnya akan diketahui tentang feminisme yang terdapat dalam novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden karya Vanny Charisma W. Serta pengumpulan data serta pengolahanya ialah secara langsung pada novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden agar mendapatkan data yang sesuai
..
Pembahasan Prilaku ; Tokoh Utama
Dela Eden seorang wanita yang tinggal di Mogadhisu, yang selalu dengan setia menanti suaminya. Suaminya bernama Akinsanya. Akinsanya merupakan seorang mantan nelayan seng beralih profesi menjadi bajak laut. Dan semenjak beralih profesi Akinsanya berubah perilakunya. Sering berbuat tidak menyenangkan, kasar, jahat dan bertindak semena-mena. Sikap sabar Dela Eden sangat luar biasa meskipun ia berada dalam kehidupan yang tidak berkecukupan.
Berbeda dengan suaminya Akinsanya. Akinsanya merasa menderita ketika melihat keluarganya selalu dalam kekurangan. Apalagi kebutuhan mereka bertambah banyak ketika memiliki anak. Tentu saja kebutuhannya akan bertambah besar. Akinsaya akhirnya menyetujui menjadi bajak laut bersama teman melautnya bernama Barack dan mulai merampok atas perintah ketuanya. Hal itulah yang membuat perliku sang suami yang dulunya baik dan penyayang kini menjadi kasar dan bengis terhadap istrinya.
Dengan adanya tujuan analisis novel Secuil Hati Wanita di Teluk Edense melalui metode deskriptif dan kualitatif sehingga ditemukan beberapa masalah yang harus dikaji lebih dalam diantaranya sebagai berikut;
1.1 Bentuk-bentuk Ketidakadilan Gender Tokoh Utama
Bentuk-bentuk ketidakadilan gender, berdasarkan kodrati penciptaan tokoh utama diciptakan berpasangan Della Eden dan sang suami yang seharusnya saling melengkapi sebagai mahluk sosial. Keduanya diciptakan berbeda sebagai pelengkap untuk mendapatkan sinergi yang baru.
Dalam novel Secuil Hati Wanita di Teluk Edense adalah pelabelan negatif Della Eden yang dituduh selingkuh oleh suaminya. Pekerjaan sebagai bajak laut yang jauh dari keluarga membuat jarak antara mereka merengang. Saling tidak percaya menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan rumah tangga namun,prilaku suami Della Eden ini cenderung berlebihan. Ia menuduh hal yang bukan-bukan terhadap sang istri, segala perkataan yang diucapkannya dianggap bohong oleh sang suami. Kekerasan yaitu berupa kekerasan fisik seperti Della ditampar oleh suaminya, Della dikurung di dalam kamar oleh suaminya, serta mendapat perlakuan kasar dari sang suami saat ia sedang mengandung.
Kekerasaan emosional Della dibentak oleh suaminya, ia juga dijauhin oleh putranya sendiri. Ia juga di tinggal suaminya sehingga ia merasa sangat kesepian. Serta kekerasan publik yang dilakukan suami ialah berupa hinaan dari para tetangga dan saat Della dimaki-maki oleh suaminya di hadapan orang banyak.
Ketergantungan kaum laki-laki terhadap perempuan merupakan dasar keharmonisan meskipun dalam kenyataanya sering terjadi perlakuan diskriminasi, tindak kekerasan. Untuk itu perlu merubah mainset terhadap pandangan tentang gender ini. Setiap orang memiliki kesamaan hak keadilan serta kesetaraan dan memiliki hak perlindungan melalui keluarga sebagai hal utama. Terwujudnya perekonomian yang rendah mampu menyediakan kesempatan berperilaku menyimpang dan hancurnya fondasi yang mulanya kokoh dalam sebuah keluarga.
Dalam perubahan peran status akan keduanya terutama suami menjadi kebiasaan yang membudaya, terciptanya perlakuan diskriminatif terhadap Della. Perlakuan individu muncsul akibat sifat-sifat cemburu tidak wajar.
Keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih utama. Banyak anggapan yang menetapkan kedudukan kaum perempuan lebih rendah ketimbang kaum laki-laki dan cenderung berbuat seenaknya. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai dari masyarakat terutama dalam novel ini untuk membatasi ruang gerak terutama kaum perempuan. Misalnya pemaksaan yang dilakukan istri Della yang mengurungnya dan menguncinya di kamar dan lain sebagainya.
1.2 Bentuk Perjuangan Tokoh Utama
Mulainya perjuangan tokoh utama untuk mewujudkan kesetaraan gender menjadi penopang pergeseran serta perubahan sikap dari sang suami. Perubahan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan, menurunya sikap kemanusiaan, serta keharmonisan dalam keluarga tersebut. Tokoh utama memiliki target akan kecukupan di bidang ekonomi melalui kemiskinan dan kelaparan yang secara tidak langsung meyakinkan suaminya tidak melakukan perbuatan menyimpang.
Ia memperjuangkan haknya sebagai seorang perempuan yang mampu melindungi keluarga serta anak-anaknya bebas dari kemiskian, keterbelakngan, ketidakadilan, penindasan, serta rasa takut mengemukakan pendapat. Pemberian pemahaman kepada sang suami dan anaknya agar mereka bisa memahami perasaan dan keadaaan Della Eden yang sedang merasa titindas atau perubahan sikap suami dan anaknya yang menjadi kasar, semen-mena dan tidak mempedulikan kondisi Della yang sedang hamil.
Hubungan antara tokoh utama dengan suaminya memiliki berbagai peran yang dijalankan oleh masing-masing. Struktur keluarga miskin, desa, keluarga cukup lengkap dengan memiliki anak yang bekerja sebagai nelayan. Hal ini diperluas dengan ketidakseimbangan gendeer dan menimbulkan masalah sehingga merugikan salah satu pihak.
Sebagai istri dan juga kaum perempuan Della membandingkan sikap melalui ekonomi yang tertinggal, kesewenang-wenangan terhadpnya. Sehingga ia ingin berperan meningkatkan aktivitas yang merugikan dirinya dan anaknya. Ia hendak menurunkan frekuensi kekerasan yang dilakukan oleh sang suami terhadapnya kususnya merubah sikap buruk ke sikap awal yang dimiliki oleh suaminya.
1.3 Pemahaman Tokoh Utama sebagai Kaum Wanita
Dari sifat tokoh utama serta pemahaman tokoh utama terhadap keadaan ekonominya bisa dibilang terarah, misalnya ketika Akinssanya, pulang melaut. Ia hanya memperoleh sedikit ikan, sehingga tidak ada yang bisa dijual lagi untuk membeli beras. Mereka sekeluarga hanya memakan ikan saja. akan tetapi bagi Della apapun yang ia makan tidak terlalu penting, yang terpenting adalah suaminya pulang dengan selamat saja sudah membuat dirinya bahagia. (hal.16-22). Kesadaran sang istri akan pekerjaan suami perlu untuk memahami permasalahan dan untuk memahami peran gender itu sendiri.
Della megetahui dari berbagai perbedaan karakter oleh suaminya, proses penyisihan mengakibatkan keterpuruka. Segala pegerjaan ia tersingkir yang hanya memfokuskan ego. Sebagai pemahaman utama mampu mengontrol antara laki-laki dan perempuan, dengan demikian ia harus menjelaskan kedudukan, peranan serta hak dan kewajiban mereka dalam berumah tangga sehingga, kesetaraan dapat dipelajari bersama dan memperkecil sikap ego dari sang suami.
1.4 Alih Pandangan
Dari pemaknaan negatif yang bermunculan secara umum dapat melairkan titik ketidakadilan salah satu yang memperlihatkan pandangan gender salah satu jenis perempuan misalnya
a. Pekerjaan yang dilakukan oleh Della sebagai ibu rumah tangga dan juga sebagai seorang ibu seperti; mencuci, memasak, membersihkan rumah, dan menunggu sang suami dengan cara mencukupi kebutuhan yang diperlukan sang suami pada saat menjadi nelayan
b. laki-laki sebagai figur menari nafkah bagi keluarganya. Hal yang utama dilakukan seorang laki-laki sebagai seorang suami ialah mencari nafkah. Pencari nafkah harus diperlakukan secara istimewa di dalam rumah. Tidak ada hal yang paling penting ketimbang pencari nafkah. Hal ini tidak hanya terjadi dalam rumah tangga saja. apabila perempuan marah dianggap bertingkah emosional dan tidak pantas.
.
Kesimpulan
Berdasarkan kajian dari novel Secuil Hati Wanita di Teluk Edense dapat disimpulkan bahwa kajian feminisme tokoh utama memiliki bentuk keetidakadilan gender yang dialaminya. Sikap yang cenderung negatif karena menganggap perempuan sebagai sumber kesalahan, dari data yang ditemukan dalam novel tokoh utama dituh berselingkuh sehingga terjadi kekerasan berupa serengan fisik maupun psikologis. Kekerasan fisik dialaminya saat Della ditampar oleh suaminya, tanganya ditepiskan dari anaknya hingga pengurungan di dalam kamar. Dan yeng terakhir kekerasan emosional dalam novel Secuil Hati Wanita di Teluk Edense yaitu Della dibentak dan diancam dibentak oleh suaminya. Ia juga dijauhi oleh anaknya dan Della merasa sedih ditinggal suaminya.
Daftar Pustaka
Chrisma, Vanny W. 2012. Secuil Hati Wanita di Teluk Eden. Yogyakarta; Berlian Diva Press.
Zina, Nino. 2013. Kesetaraan dan Keadilan Gender, ninoznina.wongjawaasli.com, wongjawaasli.blogspot.co.id. 25 Mei 2016.
Hidaty, Ciphap. 2013. Fenimisme dan Jenisnya. Ciphaphidaty.blogspot.com. 25 Mei 2016
.

Komentar
Posting Komentar