Cerpen Tltah Ing Mawari oleh: Septiya Ajeng Tri Rahayu
Mahanta Penguasa Mawari
Oleh : Septiya Ajeng Tri Rahayu
Pada suatu hari, terdapat negeri yang luas dan makmur. Tanahnya yang sangat subur sangat cocok ditanami padi, jagung, kacang-kacangan, buah-buahan dan berbagai jenis tanaman lainya. Penduduk tempat itu sangat sejahtera tidak ada penindasan, tidak ada pembantaian, tidak ada kejahatan. Kala itu orang-orang merasa bahwa puncak kehidupan mereka yaitu berada di tanah tersebut. Tanah itu dipimpin oleh kepala preman yang konon dahulunya adalah penjahat yang kerap membunuh banyak orang dan pemburu binatang buas.
Pemimpin Tanah itu bernama Mahanta. Mahanta dilahirkan oleh seseorang dari keluarga gundik, Setelah ia dijual oleh ayahnya karena hutang judi, kemudian diadopsi dan dibesarkan sebagai pelayan kaum bangsawan. Kehidupanya sebagai pelayan kaum bangsawan membuat Mahanta memiliki dendam kepada kaum bangsawan. Hal ini bukan tanpa alasan, Mahanta disiksa layaknya binatang, dicambuk, dipaksa bekerja tanpa diberi upah ataupun makanan yang sewajarnya.
Sebuah negeri yang terkenal dengan luas wilayahnya dan makmur rakyat-rakyatnya namun, masih saja ada segelintir orang seperti kaum bangsaawan yang memperlakukan pelayan sebagai budak dengan buruk. Kala itu Raja Surjana ialah sosok pemimpin negeri yang telah behasil memimpin 9 provinsi dan menyatukan 3 provinsi yang telah terpecah belah. Pada awal kekuasaanya sang raja pada tahun 929 sangat paham akan rezim dan memimpin pemerintahan dengan baik, sehingga sebagian rakyat sangat makmur dan sejahtera.
Mahanta berniat membunuh Tuanya, yaitu tuan Anom, anom bertindak gegabah dengan membunuh adik satu-satunya yang dimiliki Mahanta, Mahanta sangat menyayangi adiknya meskipun dia bukan adik kandungnya. Kala itu, Ariani adik Mahanta yang suka menulis dan membaca buku-buku diketahui oleh tuan Anom, tuan anom yang murka sangat marah, bagaimana bisa seorang pelayan belajar membaca dan menulis, hal tersebut sangat tidak diperbolehkan bagi pelayan dari kaum bangsawan. Pelayan adalah budak rendahan jangankan membaca buku-buku, menatap para tuanya akan diberi hukuman gantung. Kematian adiknya itulah dendam terbesar dari Mahanta.
Dengan melakukan konspirasi bersama dengan hakim wilayah, Mahanta meminta bantuan seluruh pelayan tuan Anom, dengan berbagai pertimbangan para pelayan-pelayan yang sama-sama ditindas itu menyetujuinya, meskipun awalnya mereka takut akan kekuasaan tuan Anom yang memiliki banyak kenalan pejabat kerajaan. Mereka semua ingin bebas, beberapa keluarga mereka dijadikan budak dan dipukuli sampai mati, mereka ingin mengahirinya kala itu.
Malam itu, malam yang paling sunyi tiada suara jangkrik, belalang ataupun serangga yang terdengar, permohonan doa kepada Buddha yang biasa pelayan lakukan dibawah pohon. juga dihentikan kala itu. Mereka sangat ketakutan apakah rencana membunuh tuan Anom berjalan lancar. Mahanta dengan keberanian yang mengalir dipembuluh darahnya telah memegang belati ditanganya, ia melangkahkan kakinya ke tempat tuan Anom. Tuan anom yang tertidur kala itu terbangun, dan melihat pelayanya Mahanta membawa belati ditanganya. Anom gemetar ketakutan dan memundurkan badanya ke tembok. Ia bertanya kepada Mahanta apa yang akan dilakukan terhadapnya tidak akan diampuni oleh Hakim wilayah. Kemudian mereka melakukan negosiasi, Mahanta tidak akan membunuh Anom asalkan ia membebaskan seluruh pelayan-pelayanya sebagai budak. Namun, Anom menolak.
Mahanta tidak kuasa menahan amarahnya dan mengulurkan belati itu keleher Anom, belum sempat membunuhnya, istri dari Anom memergoki kejadian dikamarnya. Penjaga Tehak pengikut setia Anom membawa banyak pengawal dan menangkap Mahanta. Mahanta pun diadili di pengadilan, ia menjelaskan alasanya melakukan konspirasi untuk membunuh tuanya bukan tanpa sebab, adiknya yang hanya melakukan kesalahan kecil dipukuli saat membaca buku, hanya membaca buku mereka menggantung adiknya sampai mati, dan bahkan mereka tidak dihukum sama sekali. Bukankah itu tidak adil, mereka pelayan yang diangap budak rendahan dihukum dengan mudah sedangkan para tuan dan kaum bangsawan melakukan kala itu, tidak dianggap sebagai kejahatan karena mereka kaum bangsawan yang berhak menghukum pelayanya.
Sulit sekali menemukan bukti-bukti bahwa tuan Anom memperlakukan pelayanya dengan buruk, meskipun terdapat bukti, tidak pernah ada sejarah pelayan melaporkan tuanya ke pengadilan dan menang, oleh karena itu Mahanta meminta bantuan langsung dari Hakim daerah untuk menghukum Anom. Mahanta menjanjikan jimat dari shaman gunung Jiri yang ia dapatkan agar dapat naik jabatan, dahulu kala konon siapapun yang memiliki jimat dari gunung jiri akan mendapat keberuntungan yang luar biasa. Seorang yang mandul bisa memiliki anak, seorang yang tidak menikah setelah usia 50 bisa menikah, pelayan bisa menikahi tuanya, dan konon dengan jimat dari gunung jiri dapat membuat seorang miskin menjadi kaya raya.
Hakim Wilayah menyetujui karena mendapat jimat tersebut, tapi ia juga khawatir akan rakyat sama halnya ia khawatir akan tingkah tuan Anom yang terkenal jahat, dan kejam tersebut. Hakim wilayah mencari bukti-bukti dan menghadirkan wanita penghibur dari Kalya sebagai saksi, dan telah membuktikan bahwa adik Mahanta tidak bersalah, Hakim wilayah memerintahkan untuk memenjarakan Anom dan mengeksekusinya satu bulan kemudian. Isteri dari Anom tidak terima kala itu.
Mahanta beserta pelayan tuan Anom yang lain kini bebas dan memutuskan untuk terlahir kembali sebagai orang yang baru. Begitu pula dengan Mahanta, ia beserta sebagian teman pelayan yang setia pergi menuju Mawari tempat mendirikan pemukiman, tanahnya cukup luas dan subur untuk mendirikan kerajaanya sendiri.
Mahanta kini menjadi pemimpin para preman di daerah Mawari ia membentuk Gajha. Gajha adalah kumpulan Mahanta dan orang-orang kepercayaanya untuk menghilangkan macam-macam penindasan yang bahkan negeri saat itu tidak dapat mengatasinya. negeri itu dan saat itu membunuh orang dengan suatu alasan tidak akan dihukum, mereka yang ingin bertahan hidup diperbolehkan membunuh. Mawari semakin berkembang dengan keterampilan sebagian penduduknya yang memproduksi kain sutra hitam dan putih. Pada awalnya Mawari merupakan tempat persembunyian para penjahat ataupun orang buangan dari kaum bangsawan, sehingga dipandang daerah yang kotor dan mengerikan. Beberapa tahun kemudian Mawari telah menjadi daerah yang aman dan sejahtera berkat Mahanta.
Kelompok Gajha yang Mahanta telah bentuk terdiri dari 5 orang (Mahanta, seut, Aus, Buri dan Ulcing) kala itu mereka mencuri beberapa kekayaan dari para bangsawan yang jahat dan penindas. Kemudian membaginya kepada orang yang miskin dan membutuhkan. Rumor beredar ke penghujung negeri, bahwa Gajha adalah pahlawan negeri. Gajha bukan pencuri biasa ia melawan orang-orang yang bertindak sewenang-wenang kepada penduduk dan menghukumnya. Konon pemimpin Gajha membantu orang tertindas tanpa dibayar dan perang melawan penjahat asing membela negeri tanpa sepengetahuan pejabat kerajaan.
Saat itu negeri telah mengalami krisis keuangan, peti-peti keuangan kerajaan kosong karena kekeringan, kelaparan dan kemiskinan dimana-mana. Kelompok Gajha membantu mengisi peti kerajaan dengan menukar tambang emas serta membentuk pengrajin-pengrajin perak,emas dan tembaga kemudian berkembang pesat. Raja bekerja sama dengan kelompok preman ini untuk menjaga negeri agar tetap aman dan damai, tentu saja mereka tidak bekerjasama secara langsung tapi menurut rumor yang beredar raja sangat berhati-hati ketika mendengar nama kelompok Gajha itu dari seorang penasehat kerajaan.
Gajha melakukan penjelajahan keseluruh negeri untuk membantu mereka yang tertindas dan membutuhkan, saat pagi hari ia berada disebelah utara daerah Kripala, dan saat malam hari mereka beradi di Nour. Konon mereka juga ada di Nandi pada waktu bersamaan. Orang-orang menyebut mereka bukan manusia karena beberapa orang yang telah melihat sosok Gajha ada yang mengambarkan orang yang berusia 45 tahun dengan jenggot tebal, adapula yang meyakini bahwa Gajha adalah pria berusia 25 tahun yang tinggi serta berparas tampan, ada juga orang yang pernah melihat bahwa Gaja berbadan gemuk seperti usia 35 tahunan. Belum ada yang bisa mendiskripsikan dengan tepat siapa sosok Gajha sebenarnya karena mereka muncul dimana-mana serta mengenakan topeng. Namun, menurut gadis yang pernah diselamatkan Gajha, Gajha adalah pria yang memiliki tatapan tajam dan sangat tampan.
Gajha sangat terkenal karena menjadi pencuri yang baik hati terhadap sesama. Penduduk beranggapan bahwa Gajha adalah salah satu pangeran kerajaan yang menyamar demi keselamatan negeri. Mereka juga meyakini bahwa Gajha adalah salah satu putra seorang bagsawan yang membrontak. Ada juga yang bilang bahwa Gajha itu anak salah satu selir kerajaan. Dan menurut rumor yang beredar bahwa Gajha itu adalah anak perdana menteri. Para penduduk sangat mengidolakan pencuri Gajha kala itu, karena kesengsaraan yang mereka rasakan selama ini dapat diselesaikann oleh Gajha. Gajha adalah pencuri dan preman yang tak terkalahkan, ia bisa menjadi orang yang begis terhadap orang-orang yang jahat.
Sebagai pemimpin kelompok preman Gajha, Mahanta tentu saja banyak memiliki musuh, tidak sedikit orang yang mengincar nyawanya karena telah memonopoli daerah untuk kebaikan negeri. Kala itu, Janu pemimpin kelompok preman lain merasa tidak terima akan bisnis kain sutra yang Mahanta berkembang. Janu meminta upeti yang penuh dengan sogokan dan meminta Mahanta untuk membagi kepada dirinya. Mahanta dengan tegas menolak karena Janu mendapatkan upeti dengan menjual gadis-gadis yang masih dibawah umur untuk dijadikan pemuas hasrat para bagsaawan. Janu juga membunuh orang tua gadis dan membakar bayi yang dilahirkan para gadis yg terpaksa hamil, hal itu membuat Mahanta meminta agar Janu menghentikan bisnis yang menyesatkan itu.
Saat itu Janu yang merasa tak terima dengan penolakan dari Mahanta, ia membentuk pasukan untuk menyerang Mawari. Saat Mawari diserang, Mahanta beserta teman-teman Gajha-nya melakukan negoisasi untuk tidak mempertumpahkan darah namun Janu menolak. Janu tetap bersikeras untuk melanjutkan perang antar preman tersebut, Ia memporak porandakan Mawari dengan hitungan detik karena membakar hampir sebagian rumah-rumah penduduk di Mawari, Mahanta mengamuk dan mengepalkan tanganya dan mengankat pedangnya untuk menyerang pasukan Janu, Mereka bertarung dengan dasyat dan tanpa henti, Mahanta mendapati luka di lengan akibat goresan pedang prajurit Janu. Jumlah mereka terlalu banyak hampir 3x lipat jumlah dari pasukan mahanta.
Melihat daerah yang ia bangun bertahun-tahun dihancurkan. Mahanta berteriak dan merasa tak terima dengan serangan mendadak Janu di malam hari. Penduduk Mawari bertarung dengan agresif meskipun jumlah mereka lebih sedikit. Semangat dan kemarahan penduduk Mawari telah menundukkan pasukan dari Janu kala itu. Mahanta sangat marah dan memberi pelajaran Danu dengan memotong tangan Janu. Janu dan pasukanya mundur dengan banyak luka ditubuh mereka. Janu dengan lantang mengancam bahwa ia akan membalas perbuatan Mahanta karena telah memotong tangan kanan Janu dan tunggu saja mereka pasukan Janu akan kembali membalas dendam.
Beberapa bulan kemudian, Mawari telah hidup seperti sediakala rumah-rumah telah dibangun kembali dan penduduknya mulai menjalankan pekerjaan mereka sebagai pengrajin emas, tembaga, perak dan pengrajin sutra, kemakmuran lambat laun mulai terbentuk. Di sisi lain Janu beserta pengikutnya menjalankan rencana untuk membunuh Mahanta, Janu bertemu dengan istri dari tuan Anom yang dendam kepada Mahanta untuk menjebak Mahanta.
Janu menyuruh gadis desa yang polos untuk berbura-pura menjadi gadis yang tertindas dan memasuki Mawari. Setelah memasuki Mawari gadis itu akan dipekerjakan sebagai juru masak Mawari, dan pada saat itu pula ia harus meracuni Mahanta, namun gadis itu menolak. Hingga akhirnya ia menyuruh putrinya sendiri bernama Okran untuk melakukan tugas tersebut.
Okran mulai memasuki Mawari dan berada ditengah para juru masak, ia mencampurkan racun kedalam makanan yang dibawa untuk Mahanta. Namun hal itu tidak berhasil karena Mahanta tidak berasa lapar saat itu, dan menolak makanan Okran. Okran kembali pada sore hari untuk memberikan makanan beracun untuk Mahanta, dan Mahanta kembali menolak karena alasan tidak lapar. Saat malam hari Okran kembali menawarkan makanan kepada Mahanta namun untuk kesekian kalinya ia menolak. Okran yang merasa kesal meminta penjelasan atas tindakan Mahanta yang tidak mau makan. Kemudian Mahanta menjelaskan saat negeri dilanda kekeringan, tanaman tidak tumbuh karena mati dan penduduk di luar Mawari kelaparan mana mungkin ia bisa makan. Ia memikirkan negeri yang bahkan para pejabat kerajaan belum tentu memikirkanya, Okran merasa keheranan.
Hari-hari berikutnya Okran belum memiliki kesempatan untuk meracuni Mahanta, tapi saat malam hari ini ia berjanji pada dirinya senidiri untuk meracuni Mahanta. Tepat setelah ia menata makanan ia melihat Mahanta sedang membantu salah satu pengikutnya yang terluka karena tertimbun tambang perak. Okran bertanya-tanya dalam hati apakah benar Mahanta itu pembunuh, penjahat, pencuri yang kejam seperti yang diceritakan ayahnya. Kalaupun iya kenapa dia sangat terlihat khawatir terhadap orang-orang sekitar. Untuk sesaat nampaknya Okran sama sekali tidak percaya terhadap apa yang ia lihat dan tetap memberinya makanan beracun.
Okran menyuruh Mahanta untuk menghabiskan seluruh makanan yang ia berikan karna ia menjamin rasanya sangat enak, kemudian Mahanta memakan satu sendok, dua sendok, 3 sendok dan ia gemetaran merasakan kalau dia sedang diracuni. Okran melihat sambil tersenyum, namun Mahanta tetap melanjutkan makanan yang telah diketahuinya beracun tersebut. Raut muka Okran berganti menjadi keheranan kenapa dia tidak berhenti saat mengetahui makanan itu beracun. Okran kemudian membuang makanan tersebut, melihat Mahanta bersimbah darah ia kemudian memanggil tabib.
Beberapa hari kemudian Mahanta sadar dan kesehatanya mulai pulih, Okran meminta Mahanta untuk membunuhnya karena berusaha meracuninya. Namun, ia menolak karena dia ingin melihat Okran Hidup sebagai orang yang baik. Saat itu pula Okran menyadari bahwa Penguasa Mawari adalah seorang yang memiliki kekuatan yang luar biasa bukan hanya kekuatan tapi sikap kepedulian antarsesama. SELESAI
Komentar
Posting Komentar