Seeker

 Seeker

Oleh: Septiya Ajeng Tri Rahayu 

Nim 121311133014


Lalu lalang pejalan kaki memadati jalan di setiap tempat, para muda-mudi ikut meramaikan suasana yang terjadi kala itu. Suara bising terdengar dari suara kerumuman orang, suara hewan peliharaan serta, suara kendaraan berkumpul jadi satu. Aku  turun dari taxi lalu menginjakkan kaki di tempat yang lapang. Ku lihat pemandangan sekitar yang segar penuh dengan aroma gula pasir yang menyengat. Kulangkahkan kakiku perlahan dan menoleh kearah belakang tiba-tiba ada suara yang meneriaki namaku “Hanni”. Aku pun lekas mencari sosok yang meneriaki namaku itu.

Seorang pria dengan rambut pirang agak panjang, berparas menawan tinggi teggap, dengan mengenakan stelan kaos dan jins yang menawan berdiri di depanku saat ini.

“ Hai apa kabar, kenapa kau di sini,,,??? ucapnya dengan pelan.

Akupun menunduk terdiam dan menelan ludahku tanpa sadar hmmmm,, kenapa bisa aku bertemu denganya lagi setelah sekian lama tidak pernah bertemu dan bahkan, aku sudah melupakan sosok ini beberapa tahun yang lalu. Ya orang ini memang ada dalam kehidupanku beberapa tahun yang lalu, memang tidak pantas untuk dikenang kejadian yang  menimpaku dan dia beberapa tahun silam.

Aku mengingat kejadian hari itu, hari dimana saat musim panas terjadi, saat itu aku belum mengenal dia. Kupasang poster-poster wajah menawan orang yang aku kagumi. Sehingga aku begitu menggemarinya bahkan, aku menganggap dia adalah orang yang paling sempurna di Dunia. Ganteng, menawan, keren, jago acting, bisa nyanyi iya, bisa ngedance iya, dan jago main alat musik iya,   benar-benar sosok yang sempurna dan mempesona. Ku pegangi dan pandangi poster-posternya dari ujung kaki hingga semua yang terlihat di poster itu.  Pintu kamar hingga almari pun aku tempeli poster-poster wajahnya. Aku sangat menggilainya kala itu, aku berbicara pada setiap orang, ayah, ibu, kakak serta sahabat-sahabatku bahwa dia adalah orang yang paling ingin aku temui saat itu. Mungkin aku hanya melihatnya di layar kaca tapi benar-benar aku sangat kagum padanya.

Keesokan harinya,  aku berangkat ke Kampus tiba-tiba gerimis melanda entah mengapa sial sekali aku hari ini. Tidak membawa payung bahkan sepatuku basah kali ini aku lekas berteduh di depan toko buku, aku menoleh kekanan dan ke kiri  tersenyum kecil banyak juga orang yang berteduh di sini, batinku. Kugerakan sepatuku yang basah dan mengelapnya dengan tanganku,  aku menghela nafas bisakah ini  kering hmmm mustahil??? Bagaimana aku ke sekolah dengan keadaan basah, aku menyesal tadi tidak membawa payung. Sambil menunggu hujan reda aku mengeluarkan coklat kesukaanku sambil memakanya, maklum karena kedinginan aku putuskan untuk makan saja, lagi pula aku juga sangat lapar berangkat pagi tapi belum sempat sarapan.

Hujan-pun reda aku putuskan untuk pergi ko toko buku saja, lagi pula jam menunjukan pukul 08.45 telat iya sudah sangat telat, mungkin kalau aku masuk malah di omelin sama dosen, lalu aku berfikir untuk tidak masuk kuliah saja. Tiba-tiba terdengar suara teriakan-teriakan dari sebrang toko, serta kerumunan gadis-gadis menghadang mobil 

“Aaaaaaa Kakak Marx.....”

“Kak Marx aku fansmu aku, kakak minta tanda tanganya,” gadis lain berteriak.

‘’kak... kak..... kak....kakak aku mencintaimu kak.. kak”

Aku keheranan apa jangan-jangan itu benar-benar kak Marx, aku lekas lari dan meneteskan mata apa benar itu kak Mark??. Tidak mungkin...tapi aku harus memastikanya... kalau benar aku benar-benar sangat senang dan cepat-cepatlah mendatangi kerumunan itu. Aku berlari dan hampir sampai di kerumunan itu, tiba-tiba laki-laki tinggi berlari melepaskan diri dari kerumunan dan langsung mengenggam tanganku dan pergi meninggalkan kerumunan itu. Aku sontak tercengang seketika, tubuhku menolak ditariknya dan entah mengapa aku enggan melepaskan tanganku darinya. Dia membawaku berlari-lari jauh dari lokasi kerumunan itu. Kemudian dengan nafas terengah-engah ia mulai berhenti berlari di depan sebuah rumah, aku pun ikut berhenti dan memegangi lututku yang kecapaian. Kupandangi wajahnya yang tertutup masker itu, lalu ia pun membuka maskernya.

Betapa kagetnya saat aku melihat orang itu, dengan mentap dahinya, matanya, hidungnya, bibirnya aku sampai tak berkedip hingga ia melambai-lambaikan tanganya ke wajahku hingga tersadar.

“Hei kenapa kau melamun,” ucapnya.

“Ee e e e,’’ aku terbata-bata bingung menjawab pertanyaanya.

“M a a a a a ark,,,”

“Iya aku mark kenapa, kau kaget ngomong-ngomong namamu siapa?” ujar mark. 

“Ha a a a n n ni” jawabku terbata.

“Oh maaf tadi aku membawamu berlarian itu terjadi begitu saja, aku menarik tanganmu kan? Apa kau kesakitan?”

“Iya sedikit” eluhku.

Aku terbangun membuka mataku perlahan, ku putar bola mataku mengintari seluruh ruangan satu demi satu. Bingung sekali dimana aku saat ini, dan aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Aku melihat lantai di bawahku semua barangku berceceran di lantai, aku berteriak sangat kencang manakala ada sosok pria tidur disebelahku. Dia Marx, apa yang ia lakukan padaku.

Aku berusaha mengingat apa yang terjadi. Saat menjawab pertanyaan Mark usai membawaku berlarian, aku mengatakan bahwa ia menarik tanganku sangat kasar dengan kencang hingga membuatku kesakitan. Ia meminta maaf dan terus memandangiku wajahku yang kelelahan, akupun juga memandanginya. Ohh Tuhan apa benar ini Mark sungguhan?? Aku benar bertemu Mark ??  Marx pennyanyi terkenal itu, idolaku itu? batinku. Tiba-tiba aku merasa pusing setelah kehujanan kemudian berlarian sepanjang waktu. Aku merasa tubuhku hilang keseimbangan dan ambruk.

Gadis bernama Hanni itu ambruk, aku panik karna jika membawanya ke rumah sakit pasti semua orang akan menggosipkan bermacam-macam apalagi, aku seorang publik figure. Kemudian aku  terpaksa membawanya kerumahku, lalu kubaringkan ia di kasur kamarku. Tiba-tiba Aku ingat harus pergi menghadiri acara ulang tahun Yuri sahabat terbaikku. Dengan terpaksa Aku meninggalkanya sediri bersama salah satu pembantu dirumah.

Pada saat pesta ulang tahun yuri, aku dan teman-temanku sangat menikmati pesta itu, hingga aku lupa akan  Hanni dirumah.  Entah apa yang dicampurkan pada minumanku tadi yang jelas kepalaku terasa berat dan berputar-putar. Hingga aku tidak sadarkan diri, ketika aku membuka mata aku sudah dirumah saat ini berada satu ranjang bersama Hanni, aku merasa bingung apa yang telahku perbuat semalam. Hanni menatapku dengan tatapan yang sinis dan tajam menandakan ia sedang marah sekali padaku.

Aku merasa bingung apa yang dia lakukan padaku, aku menatapnya bertanya apa yang terjadi semalam, ia tetap diam. Sontak air mataku mengalir, bagaimana ini ? bagaimana kalau aku mengandung? Apa dia mau bertanggung jawab, aku sangat gelisah meskipun  dia  adalah orang terkenal dan aku sangat mengidolakanya namun, aku belum mengenalnya dengan baik kita baru saja bertemu tadi pagi. Lalu bagaimana denganku, apa dia akan meninggalkanku? Apa dia akan melupakan hari ini dan menganggap seolah-olah hari ini tidak ada.  Bagaimana ini aku takut dia mencampakanku. Oh Tuhan aku benar-benar takut.

“Kau apa yang kita lakukan semalam?” Aku mendorongnya hingga ia jatuh ke lantai. 

Bagiamana ini apa yang harus aku lakukan, orang tuaku bisa membunuhku. Tenang Hanni aku akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu. Tapi aku tadak ingin menikah umurku masih muda, dan aku juga masih kuliah balasku. Yasudah begini saja aku minta nomor hpmu Marx, saat aku hamil aku akan menghubungimu tapi, jika tidak maka lupakan saja kita pernah bertemu. Lanjutku.  Sebenaranya aku bingung harus besikap bagaimana terhadapnya, dia adalah orang yang sangat terkenal dan dipuja-puja banyak orang, jika dia menikah denganku maka aku akan membuat dia malu saja. Keluargaku bukan orang kaya, wajahku juga pas-pasan bagaimana aku harus menikah dengan orang yang sangat sempurna bahkan, aku memikirkanya pun tidak mungkin. Batinku.

Dia tetap memaksa ingin bertanggung jawab dan aku hanya mengangguk dan berkata jika aku hamil maka aku akan menghubungiya. Dia sepertinya tidak mengerti aku pun memutuskan untuk pergi meninggalkanya tapi dia memegang tangankku dan menghentikanku. Jangan pergi ucapnya, namun aku tidak bisa tinggal lagi kulangkahkan kaki dan pergi meninggalkanya.

Dua tahun berlalu, saat itu aku sempat melihat Marx berada dalam koran, majalah, surat kabar. Kabar itu menyebutkan bahwa Marx sedang digosipkan menjalin hubungan dengan model cantik asal Jerman. Hatiku terasa sakit dan hacur, bingung kenapa setelah sekian lama aku tetap memikirkanya bahkan setiap hari aku tak lepaas dari bayanganya. Aku berusaha menjernihkan kepalaku bahwa, kami memang berbeda bumi dan langit tidak mungkin bisa bersatu. Aku mulai menitihkan air mata dan menutup majalah itu dan melupakan masa-masa itu seumur hidupku.

Aku mulai tersadar dari lamunanku, Hanni, Hanni, Hanni ucap marx sambil menggerakkan tubuhku.

“ Sedang apa kau disini? Sudah lama ya kita tidak bertemu, kau sendirian?” ucapnya.

“Iya balasku. Bagaimana keadaanmu Marx?” aku mulai memecah keheningan.

“Aku selama ini mencarimu Hanni, kau dimana saja? aku menemukan dimana kampusmu dan teman-temanmu, ku dengar kau mengandung saat itu lalu keluargamu mengajakmu pindah rumah. Bagaimana dengan anak kita? tanya Marx. Aku hanya terdiam dan bingung dari mana dia tahu semuanya.”

Aku pun menjelaaskanya panjang lebar dan berniat mempertemukan Alvrin anak kita kepada Marx. Tapi apakah Marx akan menerima Alvrin atau hanya basa-basi saja toh kudengar di sudah punya pacar. 

“Kau kan sudah punya pacar?”

“ Itu bukan anakmu?” 

“Hahahah pacar dari mana aku bahkan belum bisa melupakanmu, kau cemburu?”balasnya. Akupun tersenyum bahagia. Dahaulu aku yang enggan menikah denganya karena posisiku masih kuliah dan aku benar-benar ingin fokus kuliah sedangkan dia adalah publik figur yang terkesan glamor membuatku minder. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Hingga akhinya kami memutuskan untuk menikah saat ini dan membesarkan Alvrin  bersama-sama.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makna Lagu One More Chance "Super Junior"

SUSUNAN SOAL KETRAMPILAN BERBICARA MURID SMA (FORMAT PENILAIAN KOMPONENEN BERBICARA DAN PEDOMAN PENSKORAN NILAI)

Kesenian Jaranan "Turonggo Joyo Saputro" Wates-Kediri Jawa Timur