FILOLOGI NUSANTARA DAN KAJIANYA
Segi etimologi, kata Filologi berasal dari bahasa
Yunani philologia. Philologia gabungan philos dan logos, philos artinya “teman”
dan logos artinya “pembicaraan”, “kata”, “ilmu”. Dalam perkembangannya Secara Etimologis kata philologia
bermakna “cinta kata’’ atau “cinta ilmu”. Dari makna harfiah itulah keemudian philologia dalam perkembanganya
dimaknai oleh pemakaianya menjadi “ senang berbicara”, “senang belajar”,
“ senang pada ilmu”, “senang pada
tulisan”. Dalam perkembangan selanjutnya
kata tersebut dimaknai sebagai “senang atau cinta pada tulisan-tulisan yang bernilai tinggi” seperti karya-karya
sastra.
Menurut kamus, kata filologi (philology) dalam bahasa inggris dipakai dalam pengertian terbatas
ialah studi sejarah dan penafsiran teks pada naskah-naskah lama.
Dalam
The Shorter Oxford English Dictionary,
kata itu didefinisikan : “ love of
learning and literature, the study of literature in a wide sense”. Dalam
kamus Webster disebutkan bahwa philology adalah “the scientific study of language and their structure and mutual
relation.
Objek kajian filologi adalah teks, kemudian sasaran
kerjanya adalah naskah. Teks dalam
fililogi yang dimakasud berupa gagasan, pikiran dan informasi yang bersifat
abstrak, sedangkan naskah adalah media bahan yang bersifat konkret yang memuat
teks. Sebagai objek kajian filologi persoalan teks sangat beragam, begitu juga
dengan persoalan naskah.Oleh
karena itu perlu dibicarakan hal-hal mengenai seluk beluk naskah, teks dan
tempat penyimpangan naskah yaitu akan diuraikan sebagai berikut: Naskah dan
Teks
sebagaimana telah disebutkan pada tulisan
sebelumnya, bahwa
filologi berusaha mengungkapkan hasil budaya suatu bangsa melalui kajian bahasa
pada peninggalan dalam bentuk tulisan. Berita tentang hasil budaya yang
diungkapkan oleh teks klasik dapat dibaca dalam peninggalan-peninggalan yang
berupa tulisan yang disebut naskah.
Bahasa-bahasa yang memiliki pengaruh signifikan pada naskah-naskah Indonesia!
-Bahasa Sansekerta Terutama untuk pengkajian naskah-naskah Jawa, khususnya Jawa Kuna, sangat dituntut pengetahuan bahasa Sansekerta. Dalam naskah Jawa Kuna, pengaruh bahasa ini sangat besar, tidak hanya berupa penyerapan kosa kata dan frase melainkan juga munculnya cuplikan-cuplikan yang kadang-kadang tanpa terjemahan. Dalam naskah-naskah Melayu, seperti dalam naskah-naskah Jawa Baru, pengaruhnya juga berupa kata serapan, tetapi jumlahnya tidak sebanyak yang terdapat dalam naskahnaskah Jawa Baru. Meskipun demikian, penanganan naskah-naskah Melayu juga memerlukan pengetahuan bahasa Sansekerta.
- Bahasa Arab Pengetahuan bahasa Arab diperlukan terutama untuk pengkajian naskah-naskah yang kena pengaruh Islam, khususnya yang berisi ajaran Islam dan tasawuf atau suluk. Dalarn naskah yang demikian itu, banyak terlihat kata-kata, frase, kalimat, ungkapan, dan nukilan-nukilan dalam bahasa Arab, bahkan kadang-kadang bagian teks tertentu, misalnya pendahuluan, disusun dalam bahasa Arab. Dengan kata lain, untuk menangani naskah-naskah yang berisi ajaran agama Islam atau yang kena pengaruh Islam, pengetahuan bahasa Arab sangat diperlukan. Terlebih lagi apabila kita i.ngin melacak atau membandingkan teks-teks Nusantara yang kena pengaruh Islam dengan sastra Islam berbahasa Arab atau dengan sumbernya yang berbahasa Arab . Contoh naskah-naskah yang bersifat seperti tersebut ci! atas dalam sa,stra Melayu, antara lain, adalah naskah-naskah karya H::imnh Fansuri, Syamsuddin Assamatrani, Nuruddin Arraniri, Abdurrauf Assingkeli, misalnya, Syarabul Asyiqin, Mir'atul Mu ' minin, Sirathal Mustaqin , dan Ihq 'iqul Huruf; dalam sastra Jawa, antara lain, ialah naskah-naskah yang berjudul suluk, misalnya Suluk Sukarsa, Suluk Wuji/.
-Pengetahuan Bahasa-bahasa Daerah Nusantara , baik asal daerah penemuannya maupun daerah penyalinannya, apalagi asal daerah penulisan naskah aslinya. .Kesulitan baca sepert1 tersebut di atas terutama dijumpai dalam naskah-naskah berhuruf Jawi, bukan huruf pegon k.arena ejaan dengan huruf Jawi tidak telalu menyertakan tanda vokal. Dengan demikian, ke- 14 sukaran baca semacam itu terutama dijumpai dalam naskah-naskah berbahasa Melayu. Kegiatan lain yang rnemerlukan pengetahuan bahasa-bahasa daerah Nusantara ialah menyadur atau menerjemahkan teks-teks lama Nusantara ke d:ilam bahasa Indonesia yang juga merupakan kegiatan ahli filologi di samping kegiatan menyajikan teks-teks lama dalam keadaan siap pakai oleh ilmu-ilmu lain. Filologi memiliki kaitan erat dengan berbagai disiplin ilmu lainnya, sehingga peranannya menjadi penting sebagai alat bantu bagi ilmu-ilmu tersebut. Filologi memberikan dukungan atau kontribusi kepada berbagai disiplin ilmu lainnya!
a. Ilmu Linguistik: Memerlukan suntingan teks dari hasil filologi Linguis mempercayakan pembacaan teks-teks lama kepada filolog .
b. Ilmu Sosiolinguitik: Ilmu yang mempelajari hubungan dan saling terpengaruh antara perilaku bahasa dan masyarakat. Membantu mengungkapkan keadaan sosial budaya yang terkandung dalam naskah
c. Ilmu Sastra : Penyedia suntingan naskah lama untuk penyusunan sejarah sastra/ teori sastra yg bersifat umum
d. Sejarah Kebudayaan: Kegiatan: mengumpulkan naskah-naskah kuno memelihara dan menyuntingnya sehingga dengan filologi dapat mengungkapkan warisan nenek moyang, istilah dalam unsure-unsur budaya, berguna sebagai penyusunan sejarah kebudayaan
e. Ilmu Sejarah: Baanyk naskah kuno yang berisi sejarah sehingga sebagai sumber sejarah
f. Hukum adat : Banyak naskah yang berisi hukum adat sehingga suntingan teks dapat digunakan
g. Sejarah perkembangan agama: Naskah Jawa kuno banyak dipengaruhi agama Hindi dan Budha. Naskah Melayu dan Jawa Baru banyak dipengaruhi agama Islam. Suntingan tersebut akan menyediakan bahan dalam penyusunan sejarah agama
h. Filsafat: Naskah Jawa kuno bnyk dipengaruhi agama Hindi dan Budha. Naskah Melayu dan Jawa Baru bnyk dipengaruhi agama Islam. Suntingan tsb akan menyediakan bahan dlm penyusunan sejarah agama.
i. Paleografi : Ilmu tentang macam-macam tulisan kuno. Mutlak diperlukan untuk penelitian tulisan-tulisan kuno atas batu, logam, atau bahan lainnya. Paleografi menjabarkan tulisan kuno karena beberapa tulisan kuno sulit dibaca. Menempatkan berbagai peninggalan tulisan dalam rangka perkembangan umum tulisan dan atas dasar untuk menentukan waktu dan tempat terjadinya tulisan tertentu
Sumber Referensi
1. Bachtiar, Harsja W. 1973. "Filologi dan Pengembangan Kebudayaan Nasional Kita". Ceramah Pengarahan pada Seminar Filologi dan Sejarah. Yogyakarta.
2. Muzakka Mohamad dkk., Rukiyah. 2023. Filologi. Universitas Terbuka: Tanggerang Selatan
Komentar
Posting Komentar