Manfaat Kritik Sastra dan Contoh Karya Sastra
Manfaat Kritik Sastra
Kritik sastra menjadi penting karena kita akan
memfokuskan perhatian pada aspek tertentu dalam karya sastra sehingga dapat menghubungkan karya sastra
dengan sejumlah factor seperti moral, psikologi,
masyarakat dan sebagainya. Di Indonesia kritik sastra dapat mengembangkan kesusastraan suatu bangsa dengan
penilaiannya. Memberikan masukan terhadap masyarakat umum. Hasil analisis kritik
sastra dapat membantu masyarakat dalam
memahami dan mengapresiasi suatu karya sastra.
Membantu memahami suatu karya
sastra, menunjukkan keindahan atau estetika yang
terdapat di dalam suatu karya sastra. Menunjukkan parameter atau ukuran dalam
menilai suatu karya sastra. Selain menghakimi karya sastra, kritik
sastra juga memiliki fungsi untuk mengkaji dan menafsirkan karya sastra secara
lebih luas. Menjembatani kesenjangan antara pembaca dan karya sastra. Menumbuhkan kecintaan pembaca terhadap suatu karya
sastra. Meningkatkan kemampuan dalam mengapresiasi suatu karya sastra. Membuka
mata hati serta pikiran pembaca akan nilai-nilai yang terdapat di dalam suatu
karya sastra. Pada kritik sastra, objek kajiannya berupa karya.
Berikut contoh
Kajian Kritik Sastra dengann Pendekatan Objektif Puisi dengan Judul Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko
Damaono. Pendekatan yang digunakan ialah Pendekatan objektif.
Pendekatan objektif yaitu pendekatan yang memberikan perhatian atau kefokusan
penuh pada karya sastra sebagai struktur yang otonom. Pendekatan objektif juga
disebut sebagai unsur intrinsik dalam karya sastra. Menurut Wallek dan Warren (1990),
pendekatan objektif karya sastra dianggap sebagai sesuatu yang otonom,
maksudnya ialah berdiri sendiri, lepas dari dunia politik dan ekonomi, atau di
luar dari unsur-unsur intrinsik sedangkan seperti latar belakang penulis,
kondisi psikologis penulis, lingkup sosial budaya penulis; itu bukan
unsur-unsur yang dikaji dalam pendekatan objektif.
Puisi “Hujan Bulan Juni” sudah banyak tersebar di platform-platform terkenal, seperti YouTube dan Spotify. Mereka banyak melakukan inovasi untuk mengemas puisi Hujan Bulan Juni menjadi sebuah musikalisasi puisi yang juga tidak kalah keren untuk dinikmati. Karena banyak yang menaruh perhatian dengan puisi “Hujan Bulan Juni”, saya pun mencoba untuk menelaah unsur-unsur intrinsik atau pendekatan objektif dalam puisi Hujan Bulan Juni.
Tema puisi "Hujan Bulan Juni" ialah mengisahkan mengenai cinta terpendam yang tidak tersampaikan. Cinta yang lebih memilih bersemayam dalam lubuk si pemilik perasaan. Orang itu ragu untuk mengutarakan perasaannya. Meskipun cintanya tidak tersampaikan, si pemilik (hujan), tetap tabah, arif, dan bijaksana seperti pada bait sebagai berikut:
ak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
Bait kedua:
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
Bait ketiga:
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
Tipografi. Tipografi puisi “Hujan Bulan Juni” ialah disusun rata kiri dengan huruf kecil di setiap awal lariknya. Terdiri dari 3 bait dan di setiap bait terdiri dari 4 baris. Tipografi dalam penulisan puisi “Hujan Bulan Juni” di buku antologi Hujan Bulan Juni terkesan manis dan sederhana.
Perasaan penyair yang tampak dalam puisi "Hujan Bulan Juni" adalah perasaan orang yang tabah atau sabar meskipun memendam perasaan cinta. Kesabaran tersebut tampak pada penggunaan kata tabah, arif, dan bijak. Si pemilik juga ragu mengungkapkan perasaannya hingga ia menghapus jejak-jejaknya yang tertera pada larik puisi.
Nada puisi "Hujan Bulan Juni" seperti berirama kegetiran. Hal ini ditunjukkan dengan penggunaan huruf /r/ yang berulang-ulang dalam puisi. Pilihan kata yang digunakan juga menunjukkan bahwa penyair mengalami keraguan. Hingga akhirnya memilih diam saja dan mencintai dalam diam.
Irama puisi “Hujan Bulan Juni” terdapat pengulangan frasa tak ada yang lebih dan hujan bulan juni. Pengulangan ini sangat memengaruhi irama secara keseluruhan. Ketika seseorang membacakan puisi ini untuk banyak orang, keberadaan repetisi frasa dan diksi bisa diberi intonasi berbeda-beda oleh orang yang menyimaknya sehingga bisa mencapai klimaks untuk para pendengar.
Gaya bahasa atau majas. Terdapat dua majas dalam puisi “Hujan Bulan Juni”, yakni majas personifikasi dan majas repetisi. Majas personifikasi adalah majas yang seakan-akan benda mati itu sanggup atau mampu bersifat dan bertindak layaknya manusia. Ini tampak pada larik tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni. Ini seakan-akan hujan tersebut bisa memiliki sifat tabah layaknya manusia. Atau juga dalam larik tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni, dihapusmya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu. Hujan di sana seakan-akan bisa memiliki sifat bijak dan si hujan juga memiliki kaki. Selanjutnya juga dalam larik tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni, dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. Di sini seakan-akan hujan bisa merahasiakan sesuatu seperti sifat manusia.
Selain majas personifikasi, juga ada majas repetisi. Majas repetisi ialah bersifat pengulangan kata atau frasa dalam karya sastra untuk menegaskan suatu makna dalam puisi tersebut. Pengulangan dalam puisi juga bertujuan untuk menciptakan ritme dalam puisi. Majas repetisi terkandung dalam larik tak ada yang lebih … dari hujan bulan juni. Ini diulang tiap awal bait dalam puisi “Hujan Bulan Juni”.
Amanat yang bisa dipetik dalam puisi "Hujan Bulan Juni" ialah sebisa mungkin untuk selalu sabar, bijak, dan tabah dalam menjalani sesuatu. Karena tidak semua hal selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan, lalu, menyampaikan perasaan kepada seseorang yang kita cintai tidak selamanya menjadi buruk. Mencintai pada dasarnya ialah ikhlas dan tulus untuk menyayangi seseorang. Tidak minta timbal balik dan balasan adalah definisi mencintai yang paling tinggi. Namun, lebih baik mengutarakan perasaan kepada seseorang yang kita cinta, daripada menyesal tiada guna.
Sumber Referensi
1. Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press
2. Wiyatmi. 2008. Pengantar Kajian Sastra, Cetakan Kedua. Yogyakarta: Penerbit Pustaka
3.
Agik Nur Efendi. 2020. Kritik Sastra: Pengantar Teori, Kritik & Pembelajarannya. Malang
:Madza Media
Komentar
Posting Komentar