Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2021

Cerpen "Tirai Patah"

 Tirai Patah Oleh: Septiya Ajeng Tri Rahayu Hari yang melelahkan setelah banyak rutinitas, apa kabar dengan tubuh yang lemah ini? Nampaknya badanku terasa letih karna terlalu banyak pekerjaan kantor yang menumpuk.  Aku menghela nafas dan berfikir apakah perempuan tua sepertiku akan bahagia dengan pekerjaan saja, aku bahkan menginginkan seseorang mengenakan  cincin ke jari manisku. Lamunanku pecah aku mulai berkonsentrasi akan jari-jari tanganku untuk mengetik laporan yang harus diserahkan besok. Ya namaku Arendelle gadis tua berusia 34 tahun, aku masih lajang semenjak hubungan percintaanku yang gagal 2 tahun silam, merasa trauma dan berfikir untuk hidup sendiri saja. Menaiki mobil menyetir sendiri lebih menyenangkan ketimbang ada yang mengantar jemput kemana-mana, layaknya supir aku sendiri bisa menjadi supir. Aku juga bisa mengangkat tas koperku sendiri meskipun berat aku merasa kuat dan tidak memerlukan seseorang untuk membawakanya.  Dirumah aku juga bisa menge...

PUisi "Persetan Denganmu"

 ***Persetan Denganmu** oleh: Septiya Ajeng Tri Rahayu Mengekarkan otot tipismu benar tak berguna Kau angkat seonggok pisau belati  Menjadikanku remuk terserah Kalau kau bisa  Tak elap ingusmu yang berceceran di matamu itu Terserah aku tak peduli Kau menggonggong, menebarkan koar-koaran  Seperti sampah terbakar Terserah, persetan denganmu Begitu sangat aku, terbakar amarahku Karna dirimu Begitu sangat aku, membentuk mata tajamku Karna kebencianku sudah tak terbendung Kau liar seperti naga belati Kebohongan kata-katamu yang tak patut Mengenlnya pun haram sekarang Kini aku bangkit dari matiku Dan berpisah dengan kau yang pengecut.

Puisi "Pria Berambut Pirang"

 ***Pria Berambut Pirang** oleh : Septiya Ajeng Tri Rahayu Dimalam yang dingin aku meminum secangkir kopi Sembari memandangi bingkaimu rupawan Aku takjub memandanginya Rambutmu yang berwarna susu Saat kau mengayuhkan rambut Aku memperhatikanmu Saat kau mencangkul pensil aku memandangimu Bahkan secangkir kopi yang ada didepanku  Takku minum sama sekali  Karna takjub akan hujan warna tulangmu Kau menatap mendung ke arahku Dan aku tersipu Kau tak mengucap sepatah katapun Wahai pria berhelai tembok Kau hanya membisu dibawah grimis yang beramai sunyi Tiba-tiba kau pergi meninggalkan cangkirmu Dari pandanganku yang kosong Berharap jejakmu dapat kutemukan  Saat suatu malam yang dingin datang  Wahai pria berambut pirang

Seeker

 Seeker Oleh: Septiya Ajeng Tri Rahayu  Nim 121311133014 Lalu lalang pejalan kaki memadati jalan di setiap tempat, para muda-mudi ikut meramaikan suasana yang terjadi kala itu. Suara bising terdengar dari suara kerumuman orang, suara hewan peliharaan serta, suara kendaraan berkumpul jadi satu. Aku  turun dari taxi lalu menginjakkan kaki di tempat yang lapang. Ku lihat pemandangan sekitar yang segar penuh dengan aroma gula pasir yang menyengat. Kulangkahkan kakiku perlahan dan menoleh kearah belakang tiba-tiba ada suara yang meneriaki namaku “Hanni”. Aku pun lekas mencari sosok yang meneriaki namaku itu. Seorang pria dengan rambut pirang agak panjang, berparas menawan tinggi teggap, dengan mengenakan stelan kaos dan jins yang menawan berdiri di depanku saat ini. “ Hai apa kabar, kenapa kau di sini,,,??? ucapnya dengan pelan. Akupun menunduk terdiam dan menelan ludahku tanpa sadar hmmmm,, kenapa bisa aku bertemu denganya lagi setelah sekian lama tidak pernah bertemu...

Cerpen Tltah Ing Mawari oleh: Septiya Ajeng Tri Rahayu

 Mahanta Penguasa Mawari Oleh : Septiya Ajeng  Tri Rahayu Pada suatu hari, terdapat negeri yang luas dan makmur. Tanahnya yang sangat subur sangat cocok ditanami padi, jagung, kacang-kacangan, buah-buahan dan berbagai jenis tanaman lainya. Penduduk tempat itu sangat sejahtera tidak ada penindasan, tidak ada pembantaian, tidak ada kejahatan. Kala itu orang-orang merasa bahwa puncak kehidupan mereka yaitu berada di tanah tersebut. Tanah itu dipimpin oleh kepala preman yang konon dahulunya adalah penjahat yang kerap membunuh banyak orang dan pemburu binatang buas. Pemimpin Tanah itu bernama Mahanta. Mahanta dilahirkan oleh seseorang dari keluarga gundik, Setelah ia dijual oleh ayahnya karena hutang judi, kemudian diadopsi dan dibesarkan sebagai pelayan kaum bangsawan. Kehidupanya sebagai pelayan kaum bangsawan membuat Mahanta memiliki dendam kepada kaum bangsawan. Hal ini bukan tanpa alasan, Mahanta disiksa layaknya binatang, dicambuk, dipaksa bekerja tanpa diberi upah ataupu...